Sabtu, 21 April 2018

Perlu Kegagalan Untuk Mendapatkan Keberhasilan

23 Years Old. Ini adalah tentang kisahku, kehidupanku setelah kuliah. Masa yang mungkin aku bisa mengatakannya masa terjatuhku, masa tersulit dan dari situ aku belajar banyak hal untuk mendewasakanku.

Bagi sebagian orang mungkin memandang bahwa wisuda adalah akhir, dan hal itu segera menujukan kita pada sebuah kehidupan baru yang lebih baik. Hal itu juga termasuk pandanganku dalam hidup. Aku begitu percaya diri dan bangga dengan almamater yang aku miliki, akupun juga beranggapan bahwa gampang lah semua pasti akan segera terselamatkan. Target awal, umur 24 aku akan bisa membeli mobil pribadi setidaknya untuk DP. 

Dari awal aku memang terlahir dari keluarga yang aman, dalam artian Insyaallah keluargaku selalu bisa memenuhi segala kebutuhanku. Segala jatuh bangun keluarga yang pernah teman-temanku ceritakan, sampai mereka pernah merasakan apa itu kehidupan paling bawah dan sekarang Alhamdulillah mereka sudah aman dan jaya, aku tidak seperti itu. Aku selalu aman, aku selalu memiliki apa yang aku mau. Kehidupan dalam pandanganku sangatlah mudah, bagiku semua bisa didapatkan asalkan ada doa dan usaha.

But, aku sadar. Aku mulai sadar bahwa tidak semua seperti apa yang aku bayangkan. Aku tidak tau, sampai aku benar-benar merasa apa salahku? Sampai aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Rencana yang dulunya aku kira akan berjalan lancar, ternyata tahun itu (2017) tidak seperti itu. Yang akhirnya memaksaku untuk berjuang dan berusaha dengan mengandalkan diriku sendiri. No!

Disuatu sisi hatiku sangatlah gundah ketika lulus merupakan jalan yang menjauhkanku dengan seseorang yang sangat aku cintai dan inginkan. Disisi lain pikiranku sangatlah kacau ketika aku tidak kunjung mendapatkan pekerjaan terhitung setelah 2 bulan lulus kuliah. Rasanya aneh, aku harus menjalani kehidupan, aktivitas yang membosankan, yang tidak pernah terbayang sebelumnya dan tidak sesuai dengan ekspektasiku sebelumnya.

Aku, bersama teman-teman kuliahku bersama memburu jobfair. Berangkat subuh, pulang tengah malam (karena perjalanan ke kota lain PP +- 10 jam). Belum lagi lelah, dan biaya yang harus aku keluarkan untuk transport dan makan. Syukur Alhamdulillah, orangtuaku masih mensupportku untuk masalah materi. Dan saat itu aku masih terobsesi untuk kerja harus di kota besar, tujuan utama Jakarta. Atau ngga Surabaya. Dan tidak lama kemudian aku lolos administrasi untuk mengikuti tes di Jakarta.

Kebetulan orangtua mendukungku. Mereka mempersiapkan segala kebutuhanku untuk hidup disana dan aku meminta untuk coba sebulan tinggal disana. Kebetulan kakakku juga tinggal di sana jadi aku tidak kesulitan. Untuk tiket eksekutif aku sudah dipersiapkan oleh orangtuaku, sejumlah tabungan di atm juga sudah siap, kos disana juga sudah dipersiapkan oleh kakakku. Clear, aku terima jadi dan akhirnya berangkat.

Awal menginjakkan kaki disana, pikiranku terbuka lebar. Optimisku semakin bertambah 100%. Bayangkan saja, jangankan lowongan kerja, disana apapun bisa jadi duit. Pikiranku mulai goyah, aku tidak konsentrasi dengan tujuan awalku, dan ketika hari H datang, seketika pula disitu juga hasil pengumuman ditampilkan, aku gagal. Aku merasa bersalah kepada kedua orangtuaku, yang telah mensupportku dengan serius tetapi aku tidak memberikan hasil yang serius. Oh Ya Allah. Tapi disitu aku tidak hanya diam, disisa sewa kos yang ada aku memanfaatkan waktu untuk mencari peluang lain yang mungkin bisa menghasilkan. Oh, do you know guys? Ternyata dari semua itu aku baru menyadari beberapa hal yang mungkin sama sekali tidak terfikirkan olehku. Tidak hanya lowongan kerja yang banyak, pesaingpun juga lebih banyak. Kalau kamu tidak pintar, kerjamu kasar! Disini kota tidak ada matinya, dari subuh sampai subuh penuh dengan aktifitas. Tidak hanya sekali, berkali-kali aku mencoba kesempatan yang ada, sampai aku merasakan bagaimana susahnya cari kerja, cari uang. Sesulit ini, secapek ini, sengabisin duit kayak gini, apalagi sendirian muter-muter dikota orang. Bahkan aku juga merasakan bagaimana untuk bisa mengikuti tes kerja, kita tidak dihargai sebagai manusia. MMMmmmmmhhhh!!! Rasanya harus istighfar banyak-banyak. Apalagi disini aku fresh graduate, belum memiliki pengalaman, kepintaran pas-pasan. Bahasa Inggris ngga beraturan, Persiapan juga tidak pernah matang. Dan disana aku hanya banyak menghabiskan uang, sampai suatu hari aku mulai jenuh dan kebetulan sisa kos juga hampir habis. Aku memutuskan untuk pulang.

Kehidupan di Jakarta memberiku banyak pelajaran hidup yang harus aku mengerti, pelajari dan perbaiki. Aku masih pantang menyerah untuk mencari kerja di kota besar di provinsiku. Sampai pada akhirnya aku mendapat panggilan dari perusahaan besar. Disitu aku sudah sangat optimis, apalagi interview yang aku lakukan sudah sampai pada tahapan dimana pesaingku tidak. Tapi guys, salah! Bahasa Inggris TIDAK BISA aku hindari. Aku pikir, ada lah perusahaan yang ngga perlu Bahasa Inggris, dimana aku sangat lemah terhadap itu. Aku melihat temanku juga bisa mendapatkan pekerjaan tanpa perlu belajar Bahasa Inggris.

Dan ternyata semuanya salah. Bahasa Inggris sangatlah penting. Kalau kalian tidak bisa bahasa asing lain, setidaknya kalian HARUS BISA Bahasa Inggris, bahasa internasional yang sangat penting dan dibutuhkan. Mendengar semua ceritaku, orangtuaku marah. Mereka marah bukan karena aku selalu gagal, tapi mereka marah karena aku tidak mengikuti perkataannya, dimana ketika aku menyusun skripsi, aku memiliki lebih banyak waktu luang. Orangtuaku sudah mengirim sejumlah uang dan selalu mengingatkanku untuk mengikuti les bahasa inggris di Malang. Tapi aku tidak segera mandaftar dan aku hanya meremehkan saran orangtuaku.

Tidak lama kemudian, orangtuaku mengirimku ke Pare untuk fokus belajar Bahasa Inggris sampai matang. Nah disini kehidupanku dimulai. Di Pare aku menjalani hidup lebih baik. Aku lebih bisa menata hidup dan pikiranku. Semangatku sangatlah tinggi, karena disini aku memiliki target kembali. Jika kita menjalani sesuatu dan memiliki target, maka langkah kita selalu terarah. Aku sangat bisa mengatur keuangan, dan aku sadar bahwa ini bukan lagi waktu untuk terus menerus hanya menghabiskan uang orang tua. Bahkan aku berfikir bagaimana caranya dengan pengeluaran kecil, aku bisa menghasilkan ilmu dan membentuk skill dengan matang. Mungkin benar, aku orangnya individualis, dari jaman kulian, aku ngga bisa tinggal sekamar dengan orang-orang yang baru aku kenal. Aku lebih memilih untuk tinggal sendirian dalam 1 kamar. Dan di Pare sangatlah susah untuk mendapatkan kamar seperti itu. Sampai akhirnya aku mendapatkan 1 kamar dimana kondisinya dapat dikatakan tidak layak.

Pertama orangtuaku mengantarku untuk pindahan ke kosan itu, mereka sudah memperingatiku beberapa kali, ngga usah nunggu sebulan habis. Pindah kalo kamu ada pandangan kos yang lebih baik! Aku tau, aku sangat paham kekhawatiran mereka melihatku dalam keadaan dan kondisi seperti itu, tapi disini aku tidak lagi memikirkan tempat tinggal yang baik untukku. Tujuan utamaku disini adalah belajar. Untuk biaya pendidikan yang orangtua beri padaku saja aku sudah lebih dari terimakasih, apalagi hanya maslaah kos yang hanya aku buat tidur tiap malam saja. Lingkungan kosku juga tidak sebaik lingkunganku sebelumnya.

Memang awal tinggal disana aku merasa sangat takut. Aku tidak kenal siapa-siapa, dan lingkungan dasana seperti kurang aman. Sangat buruk, kamar yang selalu lembab, membuat semua buku-bukuku jamuran, bagaimana denganku jika harus tinggal disana untuk beberapa bulan. Tapi dari situ aku mulai sadar, bahwa kehidupan tidak selamanya berada diatas. Mungkin dengan support dari orangtuaku aku masih bisa hidup layak seperti saat ini, tetapi mungkin jika aku hidup dengan mengandalkan diriku sendiri, mungkin inilah aku. Dari hal itu aku sangat banyak bersyukur dengan kehidupan yang telah aku miliki sekarang ini. Jangankan untuk membeli kebutuhan tersier atau sekunder, untuk bisa mencukupi kebutuhan pokok saja aku sudah Alhamdulillah.

Sampai pada akhirnya (2018) aku mendapat informasi peluang yang sangat aku idamkan semenjak kuliah. Yang aku bayangkan akan menjadi profesiku setelah aku lulus. Sesuatu yang berhubungan dengan salah satu mata kuliah yang pernah aku usahakan meskipun aku menjalani perkuliahan dengan anak-anak jurusan lain. Mencoba mengerjakan segala tugas praktikumnya sendirian tanpa ada teman yang kenal dekat. Akhirnya kedua orangtuaku memintaku untuk pulang dan fokus pada peluang itu. Aku meninggalkan pendidikan dan kosku di Pare. Selalu belajar dan berdoa setiap hari untuk bisa memanfaatkan kesempatan itu. Aku juga sudah memantapkan niatku, mematangkan materiku, wawasanku, segalanya telah aku usahakan. Aku juga sudah mempersiapkan tiket untuk ke Jakarta pada minggu itu. Tapi ternyata kehendak Allah berkata lain. Aku memang lolos tahap awal, tapi ternyata untuk tes selanjutnya diadakan di Balai pusat Sulawesi. Ohhh, rasanya benar-benar patah. Aku telah merelakan segala materi dan sisa pendidikanku untuk hal itu, dan justru tes selanjutnya tidak diadakan di Jakarta, tapi di Sulawesi.

Ayah sudah berani untuk support aku berangkat, tapi mamah tidak berkata hal yang sama. Stress? Jelas! Patah, sakit. Sampai tidak hanya pikiranku yang kacau, tubuhku down. Aku jatuh sakit, aku benar-benar tidak semangat untuk apapun. Disuatu sisi aku juga sangat malu, karena seringkali aku diserang oleh pertanyaan dan omongan yang tidak mengenakkan. Aku paling tidak suka dibandingkan apalagi direndah-rendahkan. Aku memang cuek, tapi kalau sampai aku merasakan sesak didada berarti perkataan itu benar-benar sangat menyinggungku.

Orangtua selalu mengingatkanku, menguatkanku. Selalu menasehatiku untuk jagan sampai putus dalam berdoa dan berusaha. Tidak usah menghiraukan perkataan orang lain. Fokus pada dirimu sendiri. Cobalah bangun, menata hati dan pikiran pelan-pelan. Sampai beberapa minggu kemudian semangatku muncul kembali. Mamah, sungguh aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpanya. Mamah selalu menguatkanku, mamah selalu memberiku ketenangan diantara desakan hati dan fikiran yang aku rasakan saat itu. Akhirnya aku berusaha kembali untuk mencari pekerjaan.

Pada bulan itu, memang aku sangat banyak sekali panggilan. Dan salah satunya adalah perusahaan yang didukung oleh kedua orangtuaku. Kebetulan aku juga sudah bisa mencapai pada tahap akhir, interview kepala pimpinan cabang. Tapi saat itu aku berasa tidak seberasil interview HRD, dan ada beberapa jawaban yang perlu aku koreksi. Oh God. But aku berharap semoga keberuntungan datang kepadaku, aku segera mendapatkan panggilan kembali untuk bergabung pada perusahaan itu.

Tapi, apa yang aku dapat? Disisi lain, ketika aku kepo mengenai orang yang selama ini aku inginkan, dia mulai dekat dengan teman kerjanya. Dan perempuan itu juga sangat baper terhadapnya. Ya Allah, kalian bisa bayangkan bagaimana rasanya jadi aku. Disaat aku mulai bangkit kembali, hal itu justru membuat moodku semakin jatuh. Apalagi aku tidak kunjung mendapatkan panggilan final dari perusahaan terakhir yang telah aku usahakan. Aku, perempuan yang selama ini berusaha untuk menutupi segala perasaanku selama 4 tahun, dan mungkin dia mulai peka 1 tahun terakhir. Itupun diakhir perkuliahan, dan akhirnya kita dipisahkan oleh kelulusan. Menjalani hidup masing-masing. Usahaku, doaku selama 4 tahun yang hanya berujung seperti itu, sedangkan dia? Dia hanya dekat denganmu selama beberapa bulan dan telan mendapatkan perhatianmu lebih jauh seperti itu? Setiap aku berdiri dihadapan kaca aku selalu berkata, "Aku lebih cantik. Aku lebih baik. Aku lebih jauh banyak memberikan cinta untukmu, tapi kenapa cintamu bukan untukku?". Gila. Kalo dipikir dengan logika aku sadar aku bodoh, apalagi umurku sudah 23, bukan usia remaja alay yang galau sana sini. Tapi sungguh, jujur sampai saat ini pun tidak ada laki-laki yang bisa mengisi hatiku. Hatiku seakan tertutup, dan seketika patah. Hancur. Aku tidak lagi percaya dengan adanya cinta! Yang dulunya aku berfikir akan ada buah hasil dari kesabaranku selama ini. Akan ada waktu dimana aku akan dipertemukan dengannya kembali. Akan ada cinta yang akan tumbuh dan menyatukan kita. Tetapi semua seakan bullshit! Ini akan menjadi pengingat bagiku, bahwa tidak ada laki-laki yang benar-benar loyal. Sebaik dan secuek apapun sifatnya pada perempuan lain, bukan menjadi titik patok. Dan keadaan saat ini, mereka berada di satu kota dan satu pekerjaan yang memungkinkan untuk bertemu setip waktu. Sedangkan aku, komunikasiku dengannya sangat tidak lancar. Aku tidak diam, aku sudah berusaha hidup dimana-mana membuat cerita baru supaya aku lupa dengannya, tapi sungguh aku tidak bisa. Aku juga belum mendapatkan pekerjaan, dimana fikiranku tidak terarah. Aku sangat kacau, aku sangat ingin membeli samsak tinju untuk melampiaskan segala kekesalan duniaku.

Tapi disatu sisi aku selalu ingat bahwa aku memiliki Allah yang selalu membantuku, meringankan segala bebanku dan mengatr kehidupanku dengan sangat-sangat baik. Hanya istighfar dan banyak-banyak berdoa yang bisa aku lakukan saat itu. Aku lebih sering bersyukur dengan segala yang telah aku miliki. Dan aku teringat 1 hal yang aku lupa diatas obsesi dan doa yang selalu aku usahakan. Yaitu takdir. Setiap orang memiliki takdirnya masing-masing, aku tidak bisa menyamakan kehidupanku dengan kehidupan orang lain. Sejauh, sekeras, seniat apapun usaha dan doa kita, jika Allah tidak menetapkannya untuk kita, kita tidak akan menggapainya. Allah lebih mengetahui apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Bukan tidak akan mendapatkan, mungkin kita akan diberi sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang kita usahakan sebelumnya. Aku tidak lagi menuntut untuk mengusahakan apa yang aku inginkan. Aku letakkan segalanya, aku pasrahkan segalanya kepada Allah. Tapi aku tetap berusaha dan berdoa semaksimal mungkin, melakukan apapun yang terbaik yang akupunya. Tidak lupa aku selalu meminta petunjuk dan jalan supaya mendapat tuntunan untuk bisa menjalani hidup dengan lebih baik dan bermanfaat. Selalu dekat dengan Allah, menjalani semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. 

Aku mendapatkan ketenangan yang sangat menyejukkan hati dan pikiranku. Disisi lain, pada akhir bulan aku mendapatkan panggilan kerja dari sesuatu yang hanya aku coba-coba. Aku mengikuti seleksi tulis dan wawancara semaksimal mungkin yang aku bisa dan akhirnya aku mendapatkan informasi untuk mulai bekerja awal bulan. Ya Allah, semua telah Engkau atur. Engkau akan memberikan hasil pada hambaMu yang kuat, pantang menyerah dan selalu berusaha. Engkau akan mengabulkan dan memberi jalan pada semua hambaMu yang berdoa. Engkau lebih mengetahui, dan aku sangat percaya pada takdir yang telah Engkau tentukan, aku percaya hal itu sebaik-baiknya kehidupan. Aku berterimakasih atas segala kesusuahan yang Engkau berikan kepadaku selama beberapa bulan ini, supaya aku lebih bisa menghargai, supaya mengetahui sulitnya menjalani kehidupan yang sesungguhnya, belajar banyak untuk bersabar dan banyak-banyak bersyukur. Dan 1 yang paling penting adalah untuk tidak berburuk sangka kepadaMu karena tidak segera mengabulkan doaku, tetapi Engkau telah menata waktu paling tepat, bukan ketika aku mau, teapi ketika aku telah pantas dan siap untuk mendapatkan segalanya. 

Saat ini aku bisa merasakan bagaimana rasanya mendapatkan uang sebesar yang biasa orangtua beri kepadaku. Ternyata untuk mendapatkan uang sebesar itu sangatlah lelah, dan aku merasakannya. Aku lebih bisa menghargai, dan banyak bersyukur atas apa yang Allah beri kepadaku. Yang perlu diingat, tidak ada usaha yang sia-sia. Allah pasti memberi rejeki yang cukup untuk kita hidup, bukan untuk gaya hidup. Tahun ini adalah awal aku memulai kehidupan yang sesungguhnya, sebagai diriku sendiri, bukan sebagai anak dari orangtuaku. Dan aku percaya masalah jodoh, Allah telah mempersiapkannya. Tugas kita adalah berusaha dan berdoa semaksimal yang kita mampu. Kalau Allah dengan mudah memberi rejeki dari arah yang benar-benar tidak pernah aku sangka, bukan tidak mungkin kan Allah juga memberiku jodoh dari arah yang tidak aku sangka? :)

Semoga kehidupan kita selalu dalam lindungan Allah, aamiin.

Rabu, 21 Juni 2017

Akhir Perkuliahan

20/06/2017
Hari dimana yakin tidak yakin, siap tidak siap, aku harus melakukan hal yang merupakan final dari segala rangkaian kuliahku selama 4 tahun ini. Comprehensive examination.

Jujur setelah semhas, aku merasa sangat down. Aku merasa sebagai orang yang paling buruk dalam hal pendidikan. Dan ada 1 orang teman yang menyindir dan meremehkan bahwa semua usahaku masih termasuk asal-asalan. Tapi banyak teman lainnya yang tetap mendukungku, membantuku dan ada satu semangat yang membuatku sedikit bisa melupakan hal tersebut. Jujur, sebenarnya aku berdoa kepada Allah, supaya seminarku dilancarkan. Tetapi Allah tidak membuatnya begitu. Dia maha tau, Dia mengerti apa yang hambaNya butuhkan, bukan yang hambaNya inginkan. Dan aku sangat bersyukur Allah buat aku jatuh, sehingga aku banyak introspeksi dan berusaha bahkan sangat berusaha melebihi kemampuan yang aku miliki untuk tugas akhirku ini. Dalam menuju hari H pun, banyak sekali halangan dan rintangan, sampai pikiran ini rasanya benar-benar penuh. Kepala serasa mau pecah, dimana sebelum-sebelumnya aku tidak pernah/tidak memiliki riwayat sakit dibagian kepala. Mungkin tekanan dan fikiran yang terlalu tegang membuatku seperti itu, sampai fisik ini rasanya hanya bisa berfungsi 30%. Dan ada suatu hari dimana aku benar-benar lemah tak berdaya dan keadaan saat ini adalah aku tinggal di Malang seorang diri. Bahkan untuk bangun membeli makanan untuk berbuka puasapun aku sungguh tidak mampu. Semuanya aku lewati sendiri, semua aku lalui sendiri dan yang mengerti semua kesulitanku hanya aku dan Allah. Begitupun usahaku. Kerja keras, mati-matian aku belajar materi dari 0 dimana aku sama sekali tidak passion dengan materi tersebut. Dan orang tua, sungguh Ya Allah, aku sangat bersyukur Engkau telah memberikanku orangtua yang sangat support baik aku dalam kondisi diatas maupun dibawah sekalipun. Perjuangan orangtua untuk mendukungku sangat aku rasakan, mulai dari doa, fisik, tenaga, materi dan semuanya mereka kerahkan supaya aku benar-benar kuat dan berhasil untuk menghadapi semua ini. Aku juga berterimakasih kepada dr. Bambang yang sudah menerima segala keluhanku dan memberikan penjelasan terkait kesehatan. Berkat kehendak Allah yang selalu memberikan yang terbaik untukku, melalui obat dari dokter aku bisa bertahan dan bangkit.

Semangat awalku adalah orangtua. Aku sebagai anak ingin melihat mereka bangga denganku yang selalu banyak merepotkannya. Aku sadar kemampuanku tidak melebihi kakak dan adikku, dimana tanpa effort yang besar dari orangtua, mereka bisa meraih segala hal yang lebih dibanding aku. Aku tidak iri, justru aku sangat bangga memiliki saudara yang hebat seperti mereka, dan hal itu membuatku termotivasi dan berusaha untuk menjadi seseorang yang ambisius dan hebat. Tidak pernah lepas aku berdoa kepada Allah karena semua kekuatan hanya berasal dariNya. Aku beranggapan bahwa kita semua sama, dan kalau mereka bisa kenapa aku tidak? Dari hal itu aku bisa mengartikan banyak hal bahwa semua hal bisa dilakukan dan semua kesulitan bisa dipelajari. Memang, malas adalah salah satu penghambat terbesar, tapi jika kita benar-benar menanamkan niat didalam diri maka apapun bisa terjadi. Selain itu aku juga ingin membuktikan kepada mereka yang memandang aku sebelah mata, bahwa aku juga bisa melakukan hal besar. Tidak ingin berdebat atau menjawab banyak, sedikit demi sedikit aku bisa memaknai kehidupan. Bahwa apapun yang kita lakukan, pasti akan dikomentari. Bahkan jika kita berbuat hal baik sekalipun masih dipandang buruk, apalagi melakukan hal buruk. Terlepas dari itu semua, aku beranggapan bahwa orang yang mengerti adalah dia yang melakukan dan terlibat langsung. Mungkin juga banyak yang beranggapan bahwa aku sangat beruntung, tapi diluar hal itu aku melakukan usaha besar, kinerja keras tanpa mereka ketahui.

Dan saat hari H datang, aku berusaha untuk tetap tenang, karena tenang adalah kunci keberhasilan. Ada sedikit keraguan bahwa aku bisa atau tidak untuk menghadapi ujian ini dimana sebelumnya dosen pernah menjatuhkanku. Tapi aku sangat percaya bahwa Allah akan memberiku kekuatan, kecerdasan, kelancaran dan kemudahan. Aku juga percaya doa orangtuaku tidak pernah putus terhadapku. Dan aku juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempelajari semua hal yang tidak aku pahami sebelumnya. Saat itu aku benar-benar yakin dan optimis bahwa semuanya akan berjalan dengan baik, Bismillah. Dan ketika ujian dimulaipun, aku merasakan ketenangan dan kelancaran yang luar biasa. Sungguh, Allah membuatku jatuh diawal supaya aku lebih berusaha keras dan pada akhirnya aku bisa menjawab semua pertanyaan dari dosen. Justru disitu, aku merasakan suasana bukan seperti ujian, tetapi seperti diskusi antar peneliti. Aku mendapatkan banyak materi diskusi dan Ya Allah, semua bahkan berjalan jauh lebih baik dari apa yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Penguji pertama yang mana dia merupakan peneliti, dosen senior serta pengampu mata kuliah tema yang aku ambil dalam skripsiku appreciate dengan penelitian yang aku lakukan dan sangat menghargai aku berani mengangkat spesies tersebut dalam skripsiku. Ya Allah, mahasiswa biasa saja meremehkan hasil kerja kerasku, tapi disisi lain dosen senior yang jauh lebih memahami tentang perikanan justru menghargai dan memujiku. Dan biasanya peserta ujian diberi kesempatan untuk keluar selama 2x jika dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan dosen penguji, tapi kali ini tidak untukku. Ujian rasa diskusi ini berjalan sangat lancar dan kami (aku dan keempat dosen) justru membahas banyak hal mulai dari tema, materi, literature bahkan kebijakan jurusan untuk lebih baik kedepannya. Dan seketika itupun, tanpa disuruh keluar ruangan, dosen langsung membacakan hasil atas ujian yang barusaja aku lakukan. Dia berkata, “Anisa, sepertinya penguji tidak suka dengan kamu. Mereka tidak suka jika kamu berlama-lama berada disini. Kamu harus segera lulus. Selamat.” Sungguh, hanya satu yang ada dihatiku saat itu, Allah. Terimakasih Ya Allah atas segala karunia besar yang telah engkau berikan kepadaku. Aku sangat percaya dengan kekuatan doa, diluar hal apapun. Jika Allah berkehendak, segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin selama kita berusaha sungguh-sungguh. Jika kita selalu dekat denganNya, pasti Dia akan memelihara kita.

Ketika semua kegiatan last exam ini berakhir dan dosen membuka pintu, betapa bahagianya aku karena orang yang selama ini aku harapkan, datang. Jujur, dari awal sungguh aku memiliki keyakinan bahwa dia akan datang pada ujian terakhirku ini, dan Allah yang membuat semua ini terjadi, dia datang diwaktu yang tepat dan memberikan selamat kepadaku. Betapa terharunya aku, melihat keberanian dia sebagai orang yang selama ini aku ketahui jarang dekat dengan perempuan dan terlihat cuek menyempatkan datang ke waktu spesialku. Sungguh, tanpa banyak kata yang perlu diucap, aku sangat berterimakasih denganmu. Tanpa melakukan apapun, hanya adanya kamu dikampus telah membuatku semangat untuk kuliah selama ini. Dan fir, jujur aku sangat takut jika lulus adalah jalan dimana aku tidak akan lagi bisa bertemu denganmu. Aku perempuan dan aku punya pikiran, diam, aku tidak bisa untuk menampakkan, mengungkapkan, mencari-cari perhatian ataupun mengemis hati kepadamu. Bahkan ada waktu dimana aku berusaha untuk acuh dan menghindarimu untuk mematikan semua rasa yang tidak beralasan ini. Tapi aku tidak bisa menghindari untuk selalu  mendoakan segala kebaikan untukmu.  Dan diluar itu semua aku punya Allah yang selalu mendengar segala doa-doaku selama bertahun-tahun ini.  Aku tau, kamu pasti juga merasakannya. Tapi aku juga tidak memaksakan apapun terhadapmu. Dan asal kamu tau, selama ini aku sangat berusaha untuk menjadi lebih baik salah satunya adalah karenamu. Aku ingin menjadi pantas, tapi aku sadar aku tidak sebanding denganmu. Aku tidak berharap kamu, tapi aku sangat berharap keberhasilan, kebaikan, kesehatan, kesuksesan dan kebahagiaan selalu menyertaimu. Terimakasih atas segalanya yang mungkin kamu atau orang lain menganggapnya biasa tapi bagiku hal ini sangat berharga. Semoga kedepannya dimanapun dan dengan siapapun kamu menjalani kehidupan selanjutnya, Allah selalu menyertaimu.


Terimakasih atas segala pencapaian ini, semoga kedepannya ilmu ini bermanfaat dan berguna bagi orang lain serta aku dapat membahagiakan orang-orang disekitarku.  

Senin, 12 Juni 2017

Secret Admirer

6/6/17. Hari ini aku semhas, tapi aku sangat tidak puas dengan presentasiku hari ini. Jujur, aku masih sangat-sangat kurang memahami materi skripsiku. Aku sangat malu dengan teman-temanku, terutama dengan dosen. Aku sangat malu karena aku sangat tidak menguasai materi yang aku bahas pada hari ini, rasanya pikiran ini seperti kosong, tidak bisa fokus, dan semuanya hancur berantakan.
Tapi disisi lain aku sangat bersyukur memiliki teman-teman yang selalu mendukung dan membantuku. Tapi hal itu tidak serta merta bisa menghilangkan ingatanku tentang kejadian semhas hari ini. Rasanya kalau dengar kata semhas, aku seperti trauma. Seperti tidak berani mengulanginya kembali, malu. Bahkan sangat malu.
Tapi ada satu hal disini yang membuatku bisa melupakan hal yang telah terjadi tadi. Seseorang. Seseorang yang dari dulu selalu aku impikan. Jujur, selama ini aku aku tidak pernah menyukai seseorang sedalam dan selama ini. Biasanya hanya berjalan dan hanya terfikir beberapa bulan saja, setelah itu bahkan aku tidak tertarik sama sekali dengan orang tersebut. Tapi ini beda. Aku sudah mencoba untuk menahan, bahkan berusaha untuk menghentikan semuanya, melupakannya berkali-kali. Semester 7 kita bener-bener terpisah, tidak pernah sekelas dan sangat jarang bertemu. Aku sudah berusaha untuk melupakannya supaya obsesiku terhadapnya ini tidak terus menerus tumbuh. Aku juga sudah berusaha untuk acuh dan tidak peduli dengan apapun yang dia lakukan. Aku juga sudah berhenti untuk menyebut namanya dalam setiap doaku. Aku merasa bahwa usahaku akan sia-sia. Bagaimanapun dia tidak mengerti. Dan aku selayaknya perempuan, hanya bisa diam dan mendoakannya. Bagai pungguk merindukan bulan, aku rasa aku tidak akan pantas dengannya, dia terlalu sempurna sedangkan aku bukanlah apa dibandingkan dengannya dan akupun menyadari itu.

Kalau boleh dan bisa, aku sangat ingin berbicara dengannya.
"Sebenarnya aku tau dan merasa bahwa kamu tau kalau aku benar-benar menyukaimu. Tapi aku benar-benar berusaha untuk menutupi semua itu dengan sikap acuhku. Sungguh, kalau mungkin saat ini banyak wanita yang  menyukaimu, aku telah menyukaimu dari dulu, dari jaman kamu masih sangat-sangat berpenampilan sederhana. Sungguh aku tidak menyukaimu dari fisik. Aku tidak bisa menjelaskannya, aku tidak tau, tetapi sangat sulit untuk bisa berhenti mengagumimu. Aku tidak tau, darimana rasa itu berasal. Aku sendiri juga tidak tau, hal apa yang bisa aku kagumi darimu, tapi ketika aku melihatmu atau berada disekitarmu, rasa itu benar-benar tumbuh. Dan sampai sekarangpun, aku tetap sulit untuk menyembunyikan itu semua. Padahal banyak kisah silih berganti selama 3 tahun ini, tapi bagiku kamu tetap merupakan lelaki paling sempurna dimataku."

"Aku tau. Dan aku juga merasa kalau sebenarnya kamu sadar dan tau kalau aku benar-benar menyukaimu. Tapi aku tidak bisa berbuat lebih dan mungkin ini akan menjadi kenangan terindahku selama kuliah. Kamu semangatku untuk masuk dan mengikuti kelas kuliah. Aku sangat menunggu-nunggu hari dimana kita jadwal sekelas. Kamu tau, aku memang tidak mengenalmu lebih jauh. Aku hanya sekedar teman seangkatanmu bahkan tidak pernah berbicara denganmu selama aku kuliah 3,5 tahun.  Tapi kamu tau, sesedikit apapun interaksi antara kita, aku sangat memperhatikan itu, dan aku sangat menghargai itu. Aku juga tau, sikapmu yang terlihat cuek dan pendiam, mustahil untukmu berani membuka pembicaraan denganku lagipula aku tidak ada hubungannya sama sekali didalam kegiatanmu. Oya, terkadang aku sangat benci dan putus asa denganmu ketika kamu benar-benar acuh dan seolah tidak mengenalku sama sekali. Memang, memang kita tidak saling kenal. Tapi aku juga sangat menghargai ketika aku merasa bahwa kamu mengetahui perasaanku ini. Kamu seolah memberikan feedback kepadaku. Aku juga merasa bahwa sebenarnya kamu mengetahui dan merasakan kehadiranku di tempat itu. Aku juga sangat gembira ketika kita bertemu di parkiran (2015), dimana kita terlambat masuk kelas dan kebetulan kelas kita berbeda. Aku dilantai 3 dan kamu di lantai 2. Dari parkiran sesegera mungkin aku lari menuju kelas supaya aku tidak berdekatan denganmu. Tapi kamu tetap mempercepat langkahmu dan mendahuluiku. Ketika sampai di lantai 2, didepan kelasmu yang mana dosen sudah masuk dan pelajaran telah dimulai, kamu tidak segera masuk tetapi berdiri didepan mading yang jelas-jelas itu mading lawas. Dan setelah aku melewati lantai 2 dan naik ke lt 3, aku melihatmu masuk kelas setelah aku lewat. Tapi aku tidak bisa menyimpulkan itu semua dan mungkin ini hanya keGRan ku saja, karena apa? Karena kamu hanya diam. Akupun juga diam. Dan, kamu tau kenapa setiap kamu hadir didekatku, sesegera mungkin aku memalingkan muka atau menghindarimu? Aku benar-benar nerveous dan aku susah untuk mengendalikan perasaanku. Aku takut jika aku terlihat salting didepanmu. Selain itu, jika aku harus melihatmu setiap hari, bagaimana bisa aku melupakanmu sedangkan perkuliahan ini hampir selesai. Aku sangat ingin sekali cepat lulus, tapi aku juga khawatir jika hal itu merupakan perpisahan kita untuk selamanya."

"Kemarin, 5/6/17 ketika aku harus konsultasi ppt untuk semhasku besok, aku segera menuju ruangan dosen pembimbingku. Dan didepan ruangan tersebut ada kamu. Jelas, jelas kondisi ini benar-benar membuatku bimbang. Aku ingin menghindarimu, tetapi aku harus standby ditempat itu. Dan akhirnya akupun memilih untuk membelakangimu, meskipun posisiku benar-benar aneh saat itu. Dan itu awal, awal kamu mau memulai pembicaraan denganku. Akupun menjawab sewajarnya dan sangat berusaha untuk terlihat tenang dan biasa. Aku juga mendapat kabar kalau kamu besok juga semhas. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya jauh hari, tapi aku berpura-pura untuk tidak tau dan tidak peduli dengan semua itu."

"Andai kamu tau, apa hal yang membuatku menjadi lebih baik diantara penyesalanku karena gagal melakukan semhas dengan baik? Jawabannya adalah kamu. Ya, kamu! Betapa terkejutnya aku ketika kamu tersenyum, dan melihatku. Aku sungguh tidak percaya kamu akan melakukan hal itu. Seseorang yang dari dulu aku kenal pendiam dan cuek, kali ini berani untuk memulai interaksi denganku. Kamu melihatku, tersenyum dan mengucapkan selamat kepadaku. Lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku. Ya Allah, aku tidak mengira, dan aku tidak percaya kamu akan melakukan hal seperti itu. Lagipula kamu juga tidak mengenalku. Kamu tau, betapa bahagianya aku saat itu? Mungkin bagimu, bagi orang lain, ini adalah hal yang biasa. Namun aku sangat-sangat memperhatikan dan menghargai sesedikit apapun interaksi yang kita lakukan. Aku sangat berterimakasih kepadamu. Karena hal itu, fikiran burukku tentang seminarku yang gagal telah teredam dengan kejadian baik. Akupun juga mengucap selamat kepadamu, karena kamu tadi juga sudah melaksanakan semhas."


"Terimakasih! Terimakasih untuk satu hal kecil yang sangat bermakna di akhir perkuliahan ini. Mungkin bagimu ini hal yang biasa, namun bagiku ini sangat luar biasa, maafkan. Mungkin beberapa bulan lagi kita akan terpisah bahkan mungkin tidak akan bertemu kembali. Sungguh aku sedih,  hanya kepadamu aku bisa merasakan perasaan seperti ini dan selama ini. Padahal kamu tau, aku bukan tipe orang yang gampang tertarik dengan lelaki, dan tidak bisa menyukai dalam jangka waktu yang lama. Kamu beda, kamu sama sekali bukan tipe lelaki yang aku idamkan, aku juga tidak mengerti apa kelebihanmu yang patut aku kagumi. Tanpa alasan yang jelas, aku sangat menyukaimu. Hanya padamu aku merasakan perasaan sedalam dan selama ini." 

Kamis, 22 Desember 2016

Do you feel the same?

23/12/2016

Galau, mungkin itu satu kata yang paling tepat untuk mahasiswa semester akhir seperti aku. Entah galau masalah judul skripsi, galau masalah hubungan ataupun galau yang lain-lainnya. Jujur saja, awal semester 7 ini aku bener-bener galau yang paling hebat dari sebelum-sebelumnya. Tapi untung saja, galau yang aku rasakan ini ada rekannya. Temenku kebetulan juga baru putus, jadi dia juga sama galau. Jadi ceritanya kemarin itu kita seperti berjuang bersama gitu.

Seperti cerita yang sebelumnya, ini adalah tentang orang yang sama. Setelah bulan September itu aku bener-bener galau yang sangat dan sangat. Bulan Oktober aku benar-benar sangat boros bahkan aku bisa mengeluarkan 2x lipat dari bulananku biasanya. Semua itu aku lakukan agar aku bisa kembali menemukan kebahagiaan selanjutnya ketenangan.

Bulan November, aku mulai bisa mengontrol diri dan perasaanku. Aku mulai bener-bener serius dalam menjalani hidup dan aku benar-benar ingin berubah menjadi yang lebih baik. Bulan desember aku mulai menata diriku yang sebelumnya bener-bener ngga teratur. Aku remake jadwal kegiatanku untuk sehari-harinya. Aku mulai giat menerapkan pola hidup sehat, seperti makan dan olahraga yang teratur. Sambil berjalan, aku mendapat masukan dari kedua orangtuaku terutama mamaku. Dari situ aku benar-benar berfikir keras dan aku bertekat untuk mengubah diriku menjadi lebih baik. Ini merupakan saat yang tepat untuk banyak berdoa dan berusaha. Selain memperbaiki diri dari sisi penampilan, aku juga berusaha memperbaiki diriku dari dalam termasuk hati dan fikiran.

Bulan Desember, Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik. Dari mulai sisi penampilan aku sudah berusaha untuk menjaganya. Aku makan seperlunya, sangat mengurangi ngemil, aku rutin senam dan renang. Aku mulai rajin merawat kulitku baik dari luar maupun dalam. Aku sangat menjaga kesehatan dengan tidak melupakan sayuran dan buah-buahan. Selain semua hal itu, hal paling penting adalah perbaikan diri dari dalam. Yang aku bicarakan adalah akhlak, hati dan fikiran. Jujur, hal ini benar-benar banyak rintangannya. Sumpah, aku benar-benar merasakan hal itu. Ketika kita berusaha untuk berbuat baik dan memperbaiki diri, tidak semua orang senang dengan perubahan kita. Mereka yang belum bisa menerapkan perbaikan selalu jengkel dan iri dengan perubahan yang ada pada diri kita. Satu kunci utama yang aku terapkan saat itu hanya sabar dan perbanyak berdoa. Benar-benar aku sangat bertekat untuk memperbaiki agama dan perilakuku.

Dalam salah satu pikiran baruku, aku berfikir bahwa pacaran itu sangatlah tidak penting. Lagipula dia yang saat ini masih bersama kita, belum tentu menjadi jodoh kita nantinya. Banyak artikel-artikel keagamaan yang aku baca, berkaitan dengan hukum tersebut. Dan aku tertarik bahkan sangat tertarik untuk menerapkan hidup yang benar-benar baik di jalan-Nya. Menghindari hal-hal sepele yang mungkin itu merupakan hal biasa namun sebenarnya hal tersebut adalah mendekati dosa.

Minggu ke 2 bulan desember, aku datang bulan. Otomatis aku tidak sholat untuk seminggu itu. Hal itu membuat hidupku menjadi goyah dan tidak seteratur sebelumnya. Aku tidak puasa, aku juga tidak membaca Al Qur'an. Dan beberapa hari diantaranya, ketenangan hatikupun  mulai goyah. Aku benar-benar teringat kembali kepada orang yang sama. Aku benar-benar bingung. Perasaanku sangatlah kacau, aku bingung harus berbuat apa untuk mengatasi hal ini. Ketika aku flashback ke tahun 2014, aku dulu pernah galau tapi hal itu hanya berjalan dari bulan Mei-November. Hal itu hanya berjalan 6 bulan. Sedangkan untuk saat ini, bahkan sudah jauh melebihi waktu itu, aku masih sering kepikiran. Apalagi ketika aku secara tidak sengaja mendengar lagu yang sangat mengingatkanku pada masa itu. Saat itu aku benar-benar beranggapan bahwa jika aku masih galau, jika pikiranku selalu tertuju padanya yang membuatku tidak merasa tenang, berarti ibadahku masih kurang tekun. Doaku masih kurang. 

Saat ini hal yang paling bisa aku lakukan adalah berdoa dan berdoa. Aku mengadu kepada-Nya atas segala keluh kesah duniaku, dan aku meminta pertolongan serta kemudahan padaNya. Aku tau, aku hanya manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Malam itu (kemarin) aku tidak sengaja mendengarkan sebuah lagu yang sangat menceritakan isi hatiku saat ini. Jujur, sumpah aku masih kepikiran dia, aku rindu dia. Tapi semua hal itu mustahil untuk diobati. Aku tau diriku dan aku juga tau dirinya seperti apa. Tapi beberapa kali juga Allah memberi kejutan kepadaku. Setiap doa yang aku panjatkan selalu dikabulkan. Dan Dia adalah maha pembolak-balik hati dan pikiran manusia.

Betapa terkejutnya aku hari ini. Ketika aku melihat notif di hp, aku melihat ada misscalled dari orang yang aku fikirkan semalam. Jujur, kemarin ketika aku mendengar lagu yang mengingatkanku tentang dia, aku tidak bisa membendung tangis. Aku benar-benar menangis karena aku merasa sesak hati. Aku sesak hati jika harus memendam ini terus sendirian. Aku benar-benar larut dalam kegalauan. Aku hanya ingin bertemu dengannya, tapi aku beranggapan hal itu mustahil. Mungkin dia telah menemukan kehidupan barunya, tapi aku? jika ditanya, saat ini aku masih pada perasaan yang sama dengan orang yang sama, yaitu kamu. Aku bingung harus berbuat apa untuk mengatasi segala rindu yang ada yang membuat aku selalu memikirkanmu yang tidak lagi memikirkanku. 

Mungkin gengsiku akan melebihi segalanya, termasuk perasaanku terhadapmu. Mungkin gengsi akan menutupi segalanya, termasuk aku yang (masih) membutuhkanmu but I not show it. Seberapa keras, seberapa besar aku merubah pola pikirku, aku selalu menyerah ketika rasa itu tiba-tiba muncul. Hal yang bisa aku lakukan saat ini adalah diam, berdoa, dan menghindarimu. Mungkin ini adalah hal yang bisa membuatku melupakanmu, orang terindah.

Disisi lain, aku berfikir, apakah jika ketika aku memikirkanmu secara hebat, sebenarnya kamu juga berfikiran yang sama denganku? Tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali. Ketika awal semester ini setelah perpisahan kita, dimana sorenya aku sangat memikirkanmu, melihat ulang segala chat kita dulu, dan dihari yang sama malam itu kamu mengajakku keluar. Beberapa bulan kemudian, ketika aku juga tetiba kepikiran kamu lagi, sampai aku bingung setengah mati, malamnya kamu juga menghubungiku. Dan bukti terakhir adalah notif hari ini. Aku tidak tau apa yang ada dipikiranmu, yang jelas aku tau betul apa pikiranku saat ini. Dan jika aku merasa tidak kuat, aku hanya mengadu kepada Allah dan aku benar-benar banyak berdoa supaya aku diberi ketenangan fikiran dan perasaan.

Dalam diam, aku hanya bisa berdoa semoga sedikit-sedikit aku bisa mengikhlaskanmu dan aku segera lupa dengan semua ini. Aku berdoa semoga skripsiku lancar dan aku segera lulus. Dan setelah itu aku akan meninggalkan lingkungan ini, lingkungan kampus yang masih berdekatan denganmu. Ketika aku menemukan lingkungan baru, aku berharap itu akan lebih baik dan memberiku cerita baru yang nantinya mampu menenggelamkan memoriku terhadapmu selamanya.

Kamis, 15 Desember 2016

Hi Guys

Perkenalkan, nama saya Anisa Nur Wulan. Saat ini saya masih terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di salah satu universitas negeri di Malang. Jadi gini, mohon maaf sebelumnya kalau saya banyak spam melalui blog, blog ini saya khususkan hanya untuk cerita kehidupan saya, alias curhatan. Saya pikir tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan blog saya ini, jadi mungkin saya pikir lumayan aman jika saya berceloteh di sini. Dan blog ini tidak ditujukan untuk siapapun, ini adalah galeri celotehan saya yang mungkin akan saya baca kembali beberapa tahun kedepan, supaya sedikitpun memori itu dapat terkenang dan menjadi catatan hidup yang pernah ada. Sebenarnya ini lebih spesifik ke kisah asmara, tapi ngga papa lah. Namanya juga anak muda, haha.

Jadi saya juga memiliki banyak akun aktif di beberapa situs, dan salah satu akun saya yang saya rasa bermanfaat untuk kalian adalah academia edu. Disitu saya share beberapa materi kuliah saya yang mungkin sebidang dengan anda dan saya harap dapat bermanfaat untuk banyak orang. Untuk akun yang lain, kurang lebih sama, isinya hanya postingan-postingan kehidupan saya, dan saya harap hal ini tidak mengganggu kalian, dan semoga informasi yang saya repost dalam beberapa akun sosial saya dapat bermanfaat bagi kalian semua. Sekian terimakasih

Jumat, 23 September 2016

Next "Secret Thanks"

Aku kira beberapa bulan yang lalu adalah benar-benar perpisahan kita. Sungguh, akupun tidak berharap kembali akan bertemu denganmu. Kalaupun kita tidak sengaja bertemu di kampus, rencanaku adalah membuang muka dan segera menghindarimu. Itu semua karena beberapa hal dimasa lalu yang pernah kamu lakukan kepadaku, dan aku benar-benar sangat benci dengan itu.

Memang, aku tidak pernah menyesali semua tentang cerita kita, karena itu adalah salah satu cerita yang pernah tertulis didalam kehidupanku. Namun ada waktu, dimana aku benar-benar merasa benci, kecewa dll dengan semua kelakuanmu, yang mungkin pernah menyisakan luka dihati.

Awal memasuki semester 7, aku menganggap bahwa aku telah semakin tua yang artinya aku harus semakin dewasa. Aku harus benar-benar konsen pada seluruh tugas akhirku, dan bukan saatnya untuk main-main lagi. Namun, beberapa hari terakhir ini, aku sering gabut dirumah. Rasanya ingin pulang kampung saja supaya memiliki semangat dan tidak merasa sendiri.

22/09/2016, Diantara aktivitas gabutku, tiba-tiba terpikir seseorang. Seseorang yang dulu pernah menjadi terbaikku. Namun dia juga pernah menjadi seseorang yang paling mengecewakan dalam hidupku. Sengaja aku membaca chat dia dimasa lalu yang sengaja belum aku hapus, dari awal sampai akhir. Aku benar-benar mengenang masa dimana aku dan kamu adalah kita. Sempet juga kepikiran kamu lagi, entah kenapa hari itu rasanya bener-bener otakku flashback ke masa itu. Sempet juga kepikir, "Apakah semua ini bisa terulang kembali?". Namun hal itu sangatlah mustahil. Aku bener-bener tau dia, dan aku tau diriku sendiri. Aku pribadi menganggap, kita sudah move masing-masing, dan kehidupan sekarang bukanlah kita, tetapi aku dan dia.

Sempat juga, waktu aku melaksanakan PKL di Pekalongan, saat itu aku benar-benar kangen dengan Kota Malang. Aku kangen dengan kuliah, dan ketika aku memikirkan semuanya, aku benar-benar teringat kamu. Kamu, yang pernah mengisi kehidupanku, satu-satunya lelaki yang mengisi hari-hariku, menemaniku, dan membuatku tidak merasa sendiri di kota perantauan ini. Kamu juga sempat membuat aku betah untuk tinggal dikota ini dan tidak memikirkan untuk pulang ke kampung halaman dimana aku sebelumnya sangat sering pulang. 

Dan hari itu juga, dia menghubungiku. Bayangkan saja, betapa tidak percayanya aku dengan semua itu. Padahal baru tadi aku iseng membaca semua obrolan kita, sempet juga kepikiran tetapi benar-benar tidak mungkin aku menghubungimu dahulu. Aku paham dia bukan orang yang sering dan suka pegang hp, dan intinya dia ingin mengajakku keluar malam itu juga. Sempat di awal aku menolaknya, tetapi ketika dia meminta untuk tolong sekali ini saja kasih aku kesempatan untuk ngobrol denganmu, aku mengiyakannya. Dan diapun langsung menjemputku.

Di jalan dia tetap bertanya apakah aku masih marah dengan hal yang lalu. Aku jawab saja enggak. Jujur aku sudah tidak marah dengannya, aku sudah mengikhlaskannya dan aku fine dengannya. Tetapi pasti semua perempuan juga merasakannya, kita memaafkan, tetapi tidak bisa lupa dengan sesuatu yang pernah membuat kita sangat kecewa. Saat itu juga, aku sedikit menjaga jarak pula dengannya, dan dari rumah aku telah berniat bahwa tujuan kita adalah ngobrol, tidak boleh saling berperasaan atas hal apapun. Dilarang juga untuk mengungkit kisah yang lalu.

Disitu aku menangkap bahwa dia butuh teman untuk curhat. Aku kurang tau tentang dirinya saat ini, yang jelas hal seperti itu menurutku dia membutuhkan teman untuk menenangkan diri dan pikirannya.

Saat ini aku berfikir bahwa kamu adalah temanku. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, dan pertemuan kemarin telah membuat hubungan kita membaik sebagai teman. Dan secret thanks yang pernah aku simpan, telah tersampaikan langsung, dan aku sangat lega ketika kita mengakhiri semuanya dengan baik-baik. 

Rabu, 13 Juli 2016

Secret Thanks

Tidak ada sesuatu yang terjadi hanya karena sekedar ketidak-sengajaan. Pastilah semua memiliki arti, dan yang pasti hal tersebut adalah rencana Tuhan. Baik, buruknya hal tersebut adalah bagian dari kehidupan dan dapat dipetik untuk menjadi suatu pembelajaran agar kedepannya kita bisa menjadi lebih baik.
Bulan kemarin adalah bulan terakhir perkuliahan semester 6. Ketika libur dimulai, aku langsung bersiap untuk pulang ke kota asalku. Beberapa minggu kemudian, aku kembali lagi ke Malang, untuk meringkas dan membawa barang-barang yang aku butuhkan untuk melaksanakan praktik kerja magang di provinsi sebelah bulan depan.
Aku membereskan semua baju-baju, tas-tas, sepatu dll. Dan ketika aku mulai membereskan arsip-arsipku semester 6, ada beberapa map yang harus aku cek untuk memastikan apakah berkas tersebut diperlukan pada saat aku magang atau tidak. Dan aku menemukan satu map yang berisi tulisan tanganku waktu itu. Hal itu sangatlah menyita waktuku, yang mana awalnya aku berencana untuk pulang di pagi hari dan akhirnya aku jadi pulang hampir sore.
Iya, sebuah catatan tentang isi hatiku saat itu. Selembar kertas yang aku tulis untuk seseorang yang pernah mengisi kehidupanku saat itu. Sebuah pesan singkat yang mewakili beberapa pikiran dan perasaan. Kubaca satu per satu kalimat yang aku tuangkan dalam tulisan tersebut, dan aku sangat merasakan seberapa dalamnya perasaanku saat itu. Mungkin dapat dikatakan masih terkesan alay, namun itu yang aku rasakan pada saat itu.
Kalimat terakhir, sebuah kalimat penutup yang sangat-sangat menyentuh hatiku karena aku dapat merasakan dan memutar bagaimana kejadian saat itu. Thanks, dan aku membaca namamu yang aku tulis lengkap dan jelas. Akupun menutup map, dan tidak terasa aku menitihkan setetes air mata. Hal itu benar-benar refleks dan tidak aku kira.
Dengan ditutupnya berkas tersebut berarti ditutuplah juga cerita-cerita yang pernah terjadi. Saat ini, aku akan melangkah untuk cerita-cerita baru yang akan terjadi. Tidak ada sedikitpun penyesalan karena pernah mengenalmu, baik buruknya itu, meskipun masih meninggalkan luka yang mampu membuat aku down beberapa waktu, namun itu lebih baik. Semua adalah rencana Tuhan, yang mempertemukan, mengenalkan dan mendekatkan kita lalu memisahkan kita. Aku tau, saat ini hubungan kita tidak sedekat bahkan tidak sebaik dulu, aku juga tidak tau nantinya kita akan bisa berteman, bersahabat, atau malah saling melupakan seperti tidak saling mengenal. Namun satu hal yang harus kamu tahu, sedikitpun aku tidak pernah menganggap kamu musuh atau masih menyimpan benci ke kamu. Entah apapun kamu menganggap, yang pasti aku telah mengikhlaskan semuanya. Tapi satu hal yang belum mampu aku katakan kepadamu, apapun kamu, seburuk-buruknya kamu, kamu pernah menjadi teman terbaikku saat itu. Thanks. Secret Thanks for you, secret person. Thankyou for life, thankyou for loving me