Aku kira beberapa bulan yang lalu adalah benar-benar perpisahan kita. Sungguh, akupun tidak berharap kembali akan bertemu denganmu. Kalaupun kita tidak sengaja bertemu di kampus, rencanaku adalah membuang muka dan segera menghindarimu. Itu semua karena beberapa hal dimasa lalu yang pernah kamu lakukan kepadaku, dan aku benar-benar sangat benci dengan itu.
Memang, aku tidak pernah menyesali semua tentang cerita kita, karena itu adalah salah satu cerita yang pernah tertulis didalam kehidupanku. Namun ada waktu, dimana aku benar-benar merasa benci, kecewa dll dengan semua kelakuanmu, yang mungkin pernah menyisakan luka dihati.
Awal memasuki semester 7, aku menganggap bahwa aku telah semakin tua yang artinya aku harus semakin dewasa. Aku harus benar-benar konsen pada seluruh tugas akhirku, dan bukan saatnya untuk main-main lagi. Namun, beberapa hari terakhir ini, aku sering gabut dirumah. Rasanya ingin pulang kampung saja supaya memiliki semangat dan tidak merasa sendiri.
22/09/2016, Diantara aktivitas gabutku, tiba-tiba terpikir seseorang. Seseorang yang dulu pernah menjadi terbaikku. Namun dia juga pernah menjadi seseorang yang paling mengecewakan dalam hidupku. Sengaja aku membaca chat dia dimasa lalu yang sengaja belum aku hapus, dari awal sampai akhir. Aku benar-benar mengenang masa dimana aku dan kamu adalah kita. Sempet juga kepikiran kamu lagi, entah kenapa hari itu rasanya bener-bener otakku flashback ke masa itu. Sempet juga kepikir, "Apakah semua ini bisa terulang kembali?". Namun hal itu sangatlah mustahil. Aku bener-bener tau dia, dan aku tau diriku sendiri. Aku pribadi menganggap, kita sudah move masing-masing, dan kehidupan sekarang bukanlah kita, tetapi aku dan dia.
Sempat juga, waktu aku melaksanakan PKL di Pekalongan, saat itu aku benar-benar kangen dengan Kota Malang. Aku kangen dengan kuliah, dan ketika aku memikirkan semuanya, aku benar-benar teringat kamu. Kamu, yang pernah mengisi kehidupanku, satu-satunya lelaki yang mengisi hari-hariku, menemaniku, dan membuatku tidak merasa sendiri di kota perantauan ini. Kamu juga sempat membuat aku betah untuk tinggal dikota ini dan tidak memikirkan untuk pulang ke kampung halaman dimana aku sebelumnya sangat sering pulang.
Dan hari itu juga, dia menghubungiku. Bayangkan saja, betapa tidak percayanya aku dengan semua itu. Padahal baru tadi aku iseng membaca semua obrolan kita, sempet juga kepikiran tetapi benar-benar tidak mungkin aku menghubungimu dahulu. Aku paham dia bukan orang yang sering dan suka pegang hp, dan intinya dia ingin mengajakku keluar malam itu juga. Sempat di awal aku menolaknya, tetapi ketika dia meminta untuk tolong sekali ini saja kasih aku kesempatan untuk ngobrol denganmu, aku mengiyakannya. Dan diapun langsung menjemputku.
Di jalan dia tetap bertanya apakah aku masih marah dengan hal yang lalu. Aku jawab saja enggak. Jujur aku sudah tidak marah dengannya, aku sudah mengikhlaskannya dan aku fine dengannya. Tetapi pasti semua perempuan juga merasakannya, kita memaafkan, tetapi tidak bisa lupa dengan sesuatu yang pernah membuat kita sangat kecewa. Saat itu juga, aku sedikit menjaga jarak pula dengannya, dan dari rumah aku telah berniat bahwa tujuan kita adalah ngobrol, tidak boleh saling berperasaan atas hal apapun. Dilarang juga untuk mengungkit kisah yang lalu.
Disitu aku menangkap bahwa dia butuh teman untuk curhat. Aku kurang tau tentang dirinya saat ini, yang jelas hal seperti itu menurutku dia membutuhkan teman untuk menenangkan diri dan pikirannya.
Saat ini aku berfikir bahwa kamu adalah temanku. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, dan pertemuan kemarin telah membuat hubungan kita membaik sebagai teman. Dan secret thanks yang pernah aku simpan, telah tersampaikan langsung, dan aku sangat lega ketika kita mengakhiri semuanya dengan baik-baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar