Rabu, 21 Juni 2017

Akhir Perkuliahan

20/06/2017
Hari dimana yakin tidak yakin, siap tidak siap, aku harus melakukan hal yang merupakan final dari segala rangkaian kuliahku selama 4 tahun ini. Comprehensive examination.

Jujur setelah semhas, aku merasa sangat down. Aku merasa sebagai orang yang paling buruk dalam hal pendidikan. Dan ada 1 orang teman yang menyindir dan meremehkan bahwa semua usahaku masih termasuk asal-asalan. Tapi banyak teman lainnya yang tetap mendukungku, membantuku dan ada satu semangat yang membuatku sedikit bisa melupakan hal tersebut. Jujur, sebenarnya aku berdoa kepada Allah, supaya seminarku dilancarkan. Tetapi Allah tidak membuatnya begitu. Dia maha tau, Dia mengerti apa yang hambaNya butuhkan, bukan yang hambaNya inginkan. Dan aku sangat bersyukur Allah buat aku jatuh, sehingga aku banyak introspeksi dan berusaha bahkan sangat berusaha melebihi kemampuan yang aku miliki untuk tugas akhirku ini. Dalam menuju hari H pun, banyak sekali halangan dan rintangan, sampai pikiran ini rasanya benar-benar penuh. Kepala serasa mau pecah, dimana sebelum-sebelumnya aku tidak pernah/tidak memiliki riwayat sakit dibagian kepala. Mungkin tekanan dan fikiran yang terlalu tegang membuatku seperti itu, sampai fisik ini rasanya hanya bisa berfungsi 30%. Dan ada suatu hari dimana aku benar-benar lemah tak berdaya dan keadaan saat ini adalah aku tinggal di Malang seorang diri. Bahkan untuk bangun membeli makanan untuk berbuka puasapun aku sungguh tidak mampu. Semuanya aku lewati sendiri, semua aku lalui sendiri dan yang mengerti semua kesulitanku hanya aku dan Allah. Begitupun usahaku. Kerja keras, mati-matian aku belajar materi dari 0 dimana aku sama sekali tidak passion dengan materi tersebut. Dan orang tua, sungguh Ya Allah, aku sangat bersyukur Engkau telah memberikanku orangtua yang sangat support baik aku dalam kondisi diatas maupun dibawah sekalipun. Perjuangan orangtua untuk mendukungku sangat aku rasakan, mulai dari doa, fisik, tenaga, materi dan semuanya mereka kerahkan supaya aku benar-benar kuat dan berhasil untuk menghadapi semua ini. Aku juga berterimakasih kepada dr. Bambang yang sudah menerima segala keluhanku dan memberikan penjelasan terkait kesehatan. Berkat kehendak Allah yang selalu memberikan yang terbaik untukku, melalui obat dari dokter aku bisa bertahan dan bangkit.

Semangat awalku adalah orangtua. Aku sebagai anak ingin melihat mereka bangga denganku yang selalu banyak merepotkannya. Aku sadar kemampuanku tidak melebihi kakak dan adikku, dimana tanpa effort yang besar dari orangtua, mereka bisa meraih segala hal yang lebih dibanding aku. Aku tidak iri, justru aku sangat bangga memiliki saudara yang hebat seperti mereka, dan hal itu membuatku termotivasi dan berusaha untuk menjadi seseorang yang ambisius dan hebat. Tidak pernah lepas aku berdoa kepada Allah karena semua kekuatan hanya berasal dariNya. Aku beranggapan bahwa kita semua sama, dan kalau mereka bisa kenapa aku tidak? Dari hal itu aku bisa mengartikan banyak hal bahwa semua hal bisa dilakukan dan semua kesulitan bisa dipelajari. Memang, malas adalah salah satu penghambat terbesar, tapi jika kita benar-benar menanamkan niat didalam diri maka apapun bisa terjadi. Selain itu aku juga ingin membuktikan kepada mereka yang memandang aku sebelah mata, bahwa aku juga bisa melakukan hal besar. Tidak ingin berdebat atau menjawab banyak, sedikit demi sedikit aku bisa memaknai kehidupan. Bahwa apapun yang kita lakukan, pasti akan dikomentari. Bahkan jika kita berbuat hal baik sekalipun masih dipandang buruk, apalagi melakukan hal buruk. Terlepas dari itu semua, aku beranggapan bahwa orang yang mengerti adalah dia yang melakukan dan terlibat langsung. Mungkin juga banyak yang beranggapan bahwa aku sangat beruntung, tapi diluar hal itu aku melakukan usaha besar, kinerja keras tanpa mereka ketahui.

Dan saat hari H datang, aku berusaha untuk tetap tenang, karena tenang adalah kunci keberhasilan. Ada sedikit keraguan bahwa aku bisa atau tidak untuk menghadapi ujian ini dimana sebelumnya dosen pernah menjatuhkanku. Tapi aku sangat percaya bahwa Allah akan memberiku kekuatan, kecerdasan, kelancaran dan kemudahan. Aku juga percaya doa orangtuaku tidak pernah putus terhadapku. Dan aku juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempelajari semua hal yang tidak aku pahami sebelumnya. Saat itu aku benar-benar yakin dan optimis bahwa semuanya akan berjalan dengan baik, Bismillah. Dan ketika ujian dimulaipun, aku merasakan ketenangan dan kelancaran yang luar biasa. Sungguh, Allah membuatku jatuh diawal supaya aku lebih berusaha keras dan pada akhirnya aku bisa menjawab semua pertanyaan dari dosen. Justru disitu, aku merasakan suasana bukan seperti ujian, tetapi seperti diskusi antar peneliti. Aku mendapatkan banyak materi diskusi dan Ya Allah, semua bahkan berjalan jauh lebih baik dari apa yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Penguji pertama yang mana dia merupakan peneliti, dosen senior serta pengampu mata kuliah tema yang aku ambil dalam skripsiku appreciate dengan penelitian yang aku lakukan dan sangat menghargai aku berani mengangkat spesies tersebut dalam skripsiku. Ya Allah, mahasiswa biasa saja meremehkan hasil kerja kerasku, tapi disisi lain dosen senior yang jauh lebih memahami tentang perikanan justru menghargai dan memujiku. Dan biasanya peserta ujian diberi kesempatan untuk keluar selama 2x jika dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan dosen penguji, tapi kali ini tidak untukku. Ujian rasa diskusi ini berjalan sangat lancar dan kami (aku dan keempat dosen) justru membahas banyak hal mulai dari tema, materi, literature bahkan kebijakan jurusan untuk lebih baik kedepannya. Dan seketika itupun, tanpa disuruh keluar ruangan, dosen langsung membacakan hasil atas ujian yang barusaja aku lakukan. Dia berkata, “Anisa, sepertinya penguji tidak suka dengan kamu. Mereka tidak suka jika kamu berlama-lama berada disini. Kamu harus segera lulus. Selamat.” Sungguh, hanya satu yang ada dihatiku saat itu, Allah. Terimakasih Ya Allah atas segala karunia besar yang telah engkau berikan kepadaku. Aku sangat percaya dengan kekuatan doa, diluar hal apapun. Jika Allah berkehendak, segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin selama kita berusaha sungguh-sungguh. Jika kita selalu dekat denganNya, pasti Dia akan memelihara kita.

Ketika semua kegiatan last exam ini berakhir dan dosen membuka pintu, betapa bahagianya aku karena orang yang selama ini aku harapkan, datang. Jujur, dari awal sungguh aku memiliki keyakinan bahwa dia akan datang pada ujian terakhirku ini, dan Allah yang membuat semua ini terjadi, dia datang diwaktu yang tepat dan memberikan selamat kepadaku. Betapa terharunya aku, melihat keberanian dia sebagai orang yang selama ini aku ketahui jarang dekat dengan perempuan dan terlihat cuek menyempatkan datang ke waktu spesialku. Sungguh, tanpa banyak kata yang perlu diucap, aku sangat berterimakasih denganmu. Tanpa melakukan apapun, hanya adanya kamu dikampus telah membuatku semangat untuk kuliah selama ini. Dan fir, jujur aku sangat takut jika lulus adalah jalan dimana aku tidak akan lagi bisa bertemu denganmu. Aku perempuan dan aku punya pikiran, diam, aku tidak bisa untuk menampakkan, mengungkapkan, mencari-cari perhatian ataupun mengemis hati kepadamu. Bahkan ada waktu dimana aku berusaha untuk acuh dan menghindarimu untuk mematikan semua rasa yang tidak beralasan ini. Tapi aku tidak bisa menghindari untuk selalu  mendoakan segala kebaikan untukmu.  Dan diluar itu semua aku punya Allah yang selalu mendengar segala doa-doaku selama bertahun-tahun ini.  Aku tau, kamu pasti juga merasakannya. Tapi aku juga tidak memaksakan apapun terhadapmu. Dan asal kamu tau, selama ini aku sangat berusaha untuk menjadi lebih baik salah satunya adalah karenamu. Aku ingin menjadi pantas, tapi aku sadar aku tidak sebanding denganmu. Aku tidak berharap kamu, tapi aku sangat berharap keberhasilan, kebaikan, kesehatan, kesuksesan dan kebahagiaan selalu menyertaimu. Terimakasih atas segalanya yang mungkin kamu atau orang lain menganggapnya biasa tapi bagiku hal ini sangat berharga. Semoga kedepannya dimanapun dan dengan siapapun kamu menjalani kehidupan selanjutnya, Allah selalu menyertaimu.


Terimakasih atas segala pencapaian ini, semoga kedepannya ilmu ini bermanfaat dan berguna bagi orang lain serta aku dapat membahagiakan orang-orang disekitarku.  

Senin, 12 Juni 2017

Secret Admirer

6/6/17. Hari ini aku semhas, tapi aku sangat tidak puas dengan presentasiku hari ini. Jujur, aku masih sangat-sangat kurang memahami materi skripsiku. Aku sangat malu dengan teman-temanku, terutama dengan dosen. Aku sangat malu karena aku sangat tidak menguasai materi yang aku bahas pada hari ini, rasanya pikiran ini seperti kosong, tidak bisa fokus, dan semuanya hancur berantakan.
Tapi disisi lain aku sangat bersyukur memiliki teman-teman yang selalu mendukung dan membantuku. Tapi hal itu tidak serta merta bisa menghilangkan ingatanku tentang kejadian semhas hari ini. Rasanya kalau dengar kata semhas, aku seperti trauma. Seperti tidak berani mengulanginya kembali, malu. Bahkan sangat malu.
Tapi ada satu hal disini yang membuatku bisa melupakan hal yang telah terjadi tadi. Seseorang. Seseorang yang dari dulu selalu aku impikan. Jujur, selama ini aku aku tidak pernah menyukai seseorang sedalam dan selama ini. Biasanya hanya berjalan dan hanya terfikir beberapa bulan saja, setelah itu bahkan aku tidak tertarik sama sekali dengan orang tersebut. Tapi ini beda. Aku sudah mencoba untuk menahan, bahkan berusaha untuk menghentikan semuanya, melupakannya berkali-kali. Semester 7 kita bener-bener terpisah, tidak pernah sekelas dan sangat jarang bertemu. Aku sudah berusaha untuk melupakannya supaya obsesiku terhadapnya ini tidak terus menerus tumbuh. Aku juga sudah berusaha untuk acuh dan tidak peduli dengan apapun yang dia lakukan. Aku juga sudah berhenti untuk menyebut namanya dalam setiap doaku. Aku merasa bahwa usahaku akan sia-sia. Bagaimanapun dia tidak mengerti. Dan aku selayaknya perempuan, hanya bisa diam dan mendoakannya. Bagai pungguk merindukan bulan, aku rasa aku tidak akan pantas dengannya, dia terlalu sempurna sedangkan aku bukanlah apa dibandingkan dengannya dan akupun menyadari itu.

Kalau boleh dan bisa, aku sangat ingin berbicara dengannya.
"Sebenarnya aku tau dan merasa bahwa kamu tau kalau aku benar-benar menyukaimu. Tapi aku benar-benar berusaha untuk menutupi semua itu dengan sikap acuhku. Sungguh, kalau mungkin saat ini banyak wanita yang  menyukaimu, aku telah menyukaimu dari dulu, dari jaman kamu masih sangat-sangat berpenampilan sederhana. Sungguh aku tidak menyukaimu dari fisik. Aku tidak bisa menjelaskannya, aku tidak tau, tetapi sangat sulit untuk bisa berhenti mengagumimu. Aku tidak tau, darimana rasa itu berasal. Aku sendiri juga tidak tau, hal apa yang bisa aku kagumi darimu, tapi ketika aku melihatmu atau berada disekitarmu, rasa itu benar-benar tumbuh. Dan sampai sekarangpun, aku tetap sulit untuk menyembunyikan itu semua. Padahal banyak kisah silih berganti selama 3 tahun ini, tapi bagiku kamu tetap merupakan lelaki paling sempurna dimataku."

"Aku tau. Dan aku juga merasa kalau sebenarnya kamu sadar dan tau kalau aku benar-benar menyukaimu. Tapi aku tidak bisa berbuat lebih dan mungkin ini akan menjadi kenangan terindahku selama kuliah. Kamu semangatku untuk masuk dan mengikuti kelas kuliah. Aku sangat menunggu-nunggu hari dimana kita jadwal sekelas. Kamu tau, aku memang tidak mengenalmu lebih jauh. Aku hanya sekedar teman seangkatanmu bahkan tidak pernah berbicara denganmu selama aku kuliah 3,5 tahun.  Tapi kamu tau, sesedikit apapun interaksi antara kita, aku sangat memperhatikan itu, dan aku sangat menghargai itu. Aku juga tau, sikapmu yang terlihat cuek dan pendiam, mustahil untukmu berani membuka pembicaraan denganku lagipula aku tidak ada hubungannya sama sekali didalam kegiatanmu. Oya, terkadang aku sangat benci dan putus asa denganmu ketika kamu benar-benar acuh dan seolah tidak mengenalku sama sekali. Memang, memang kita tidak saling kenal. Tapi aku juga sangat menghargai ketika aku merasa bahwa kamu mengetahui perasaanku ini. Kamu seolah memberikan feedback kepadaku. Aku juga merasa bahwa sebenarnya kamu mengetahui dan merasakan kehadiranku di tempat itu. Aku juga sangat gembira ketika kita bertemu di parkiran (2015), dimana kita terlambat masuk kelas dan kebetulan kelas kita berbeda. Aku dilantai 3 dan kamu di lantai 2. Dari parkiran sesegera mungkin aku lari menuju kelas supaya aku tidak berdekatan denganmu. Tapi kamu tetap mempercepat langkahmu dan mendahuluiku. Ketika sampai di lantai 2, didepan kelasmu yang mana dosen sudah masuk dan pelajaran telah dimulai, kamu tidak segera masuk tetapi berdiri didepan mading yang jelas-jelas itu mading lawas. Dan setelah aku melewati lantai 2 dan naik ke lt 3, aku melihatmu masuk kelas setelah aku lewat. Tapi aku tidak bisa menyimpulkan itu semua dan mungkin ini hanya keGRan ku saja, karena apa? Karena kamu hanya diam. Akupun juga diam. Dan, kamu tau kenapa setiap kamu hadir didekatku, sesegera mungkin aku memalingkan muka atau menghindarimu? Aku benar-benar nerveous dan aku susah untuk mengendalikan perasaanku. Aku takut jika aku terlihat salting didepanmu. Selain itu, jika aku harus melihatmu setiap hari, bagaimana bisa aku melupakanmu sedangkan perkuliahan ini hampir selesai. Aku sangat ingin sekali cepat lulus, tapi aku juga khawatir jika hal itu merupakan perpisahan kita untuk selamanya."

"Kemarin, 5/6/17 ketika aku harus konsultasi ppt untuk semhasku besok, aku segera menuju ruangan dosen pembimbingku. Dan didepan ruangan tersebut ada kamu. Jelas, jelas kondisi ini benar-benar membuatku bimbang. Aku ingin menghindarimu, tetapi aku harus standby ditempat itu. Dan akhirnya akupun memilih untuk membelakangimu, meskipun posisiku benar-benar aneh saat itu. Dan itu awal, awal kamu mau memulai pembicaraan denganku. Akupun menjawab sewajarnya dan sangat berusaha untuk terlihat tenang dan biasa. Aku juga mendapat kabar kalau kamu besok juga semhas. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya jauh hari, tapi aku berpura-pura untuk tidak tau dan tidak peduli dengan semua itu."

"Andai kamu tau, apa hal yang membuatku menjadi lebih baik diantara penyesalanku karena gagal melakukan semhas dengan baik? Jawabannya adalah kamu. Ya, kamu! Betapa terkejutnya aku ketika kamu tersenyum, dan melihatku. Aku sungguh tidak percaya kamu akan melakukan hal itu. Seseorang yang dari dulu aku kenal pendiam dan cuek, kali ini berani untuk memulai interaksi denganku. Kamu melihatku, tersenyum dan mengucapkan selamat kepadaku. Lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku. Ya Allah, aku tidak mengira, dan aku tidak percaya kamu akan melakukan hal seperti itu. Lagipula kamu juga tidak mengenalku. Kamu tau, betapa bahagianya aku saat itu? Mungkin bagimu, bagi orang lain, ini adalah hal yang biasa. Namun aku sangat-sangat memperhatikan dan menghargai sesedikit apapun interaksi yang kita lakukan. Aku sangat berterimakasih kepadamu. Karena hal itu, fikiran burukku tentang seminarku yang gagal telah teredam dengan kejadian baik. Akupun juga mengucap selamat kepadamu, karena kamu tadi juga sudah melaksanakan semhas."


"Terimakasih! Terimakasih untuk satu hal kecil yang sangat bermakna di akhir perkuliahan ini. Mungkin bagimu ini hal yang biasa, namun bagiku ini sangat luar biasa, maafkan. Mungkin beberapa bulan lagi kita akan terpisah bahkan mungkin tidak akan bertemu kembali. Sungguh aku sedih,  hanya kepadamu aku bisa merasakan perasaan seperti ini dan selama ini. Padahal kamu tau, aku bukan tipe orang yang gampang tertarik dengan lelaki, dan tidak bisa menyukai dalam jangka waktu yang lama. Kamu beda, kamu sama sekali bukan tipe lelaki yang aku idamkan, aku juga tidak mengerti apa kelebihanmu yang patut aku kagumi. Tanpa alasan yang jelas, aku sangat menyukaimu. Hanya padamu aku merasakan perasaan sedalam dan selama ini."