Senin, 12 Juni 2017

Secret Admirer

6/6/17. Hari ini aku semhas, tapi aku sangat tidak puas dengan presentasiku hari ini. Jujur, aku masih sangat-sangat kurang memahami materi skripsiku. Aku sangat malu dengan teman-temanku, terutama dengan dosen. Aku sangat malu karena aku sangat tidak menguasai materi yang aku bahas pada hari ini, rasanya pikiran ini seperti kosong, tidak bisa fokus, dan semuanya hancur berantakan.
Tapi disisi lain aku sangat bersyukur memiliki teman-teman yang selalu mendukung dan membantuku. Tapi hal itu tidak serta merta bisa menghilangkan ingatanku tentang kejadian semhas hari ini. Rasanya kalau dengar kata semhas, aku seperti trauma. Seperti tidak berani mengulanginya kembali, malu. Bahkan sangat malu.
Tapi ada satu hal disini yang membuatku bisa melupakan hal yang telah terjadi tadi. Seseorang. Seseorang yang dari dulu selalu aku impikan. Jujur, selama ini aku aku tidak pernah menyukai seseorang sedalam dan selama ini. Biasanya hanya berjalan dan hanya terfikir beberapa bulan saja, setelah itu bahkan aku tidak tertarik sama sekali dengan orang tersebut. Tapi ini beda. Aku sudah mencoba untuk menahan, bahkan berusaha untuk menghentikan semuanya, melupakannya berkali-kali. Semester 7 kita bener-bener terpisah, tidak pernah sekelas dan sangat jarang bertemu. Aku sudah berusaha untuk melupakannya supaya obsesiku terhadapnya ini tidak terus menerus tumbuh. Aku juga sudah berusaha untuk acuh dan tidak peduli dengan apapun yang dia lakukan. Aku juga sudah berhenti untuk menyebut namanya dalam setiap doaku. Aku merasa bahwa usahaku akan sia-sia. Bagaimanapun dia tidak mengerti. Dan aku selayaknya perempuan, hanya bisa diam dan mendoakannya. Bagai pungguk merindukan bulan, aku rasa aku tidak akan pantas dengannya, dia terlalu sempurna sedangkan aku bukanlah apa dibandingkan dengannya dan akupun menyadari itu.

Kalau boleh dan bisa, aku sangat ingin berbicara dengannya.
"Sebenarnya aku tau dan merasa bahwa kamu tau kalau aku benar-benar menyukaimu. Tapi aku benar-benar berusaha untuk menutupi semua itu dengan sikap acuhku. Sungguh, kalau mungkin saat ini banyak wanita yang  menyukaimu, aku telah menyukaimu dari dulu, dari jaman kamu masih sangat-sangat berpenampilan sederhana. Sungguh aku tidak menyukaimu dari fisik. Aku tidak bisa menjelaskannya, aku tidak tau, tetapi sangat sulit untuk bisa berhenti mengagumimu. Aku tidak tau, darimana rasa itu berasal. Aku sendiri juga tidak tau, hal apa yang bisa aku kagumi darimu, tapi ketika aku melihatmu atau berada disekitarmu, rasa itu benar-benar tumbuh. Dan sampai sekarangpun, aku tetap sulit untuk menyembunyikan itu semua. Padahal banyak kisah silih berganti selama 3 tahun ini, tapi bagiku kamu tetap merupakan lelaki paling sempurna dimataku."

"Aku tau. Dan aku juga merasa kalau sebenarnya kamu sadar dan tau kalau aku benar-benar menyukaimu. Tapi aku tidak bisa berbuat lebih dan mungkin ini akan menjadi kenangan terindahku selama kuliah. Kamu semangatku untuk masuk dan mengikuti kelas kuliah. Aku sangat menunggu-nunggu hari dimana kita jadwal sekelas. Kamu tau, aku memang tidak mengenalmu lebih jauh. Aku hanya sekedar teman seangkatanmu bahkan tidak pernah berbicara denganmu selama aku kuliah 3,5 tahun.  Tapi kamu tau, sesedikit apapun interaksi antara kita, aku sangat memperhatikan itu, dan aku sangat menghargai itu. Aku juga tau, sikapmu yang terlihat cuek dan pendiam, mustahil untukmu berani membuka pembicaraan denganku lagipula aku tidak ada hubungannya sama sekali didalam kegiatanmu. Oya, terkadang aku sangat benci dan putus asa denganmu ketika kamu benar-benar acuh dan seolah tidak mengenalku sama sekali. Memang, memang kita tidak saling kenal. Tapi aku juga sangat menghargai ketika aku merasa bahwa kamu mengetahui perasaanku ini. Kamu seolah memberikan feedback kepadaku. Aku juga merasa bahwa sebenarnya kamu mengetahui dan merasakan kehadiranku di tempat itu. Aku juga sangat gembira ketika kita bertemu di parkiran (2015), dimana kita terlambat masuk kelas dan kebetulan kelas kita berbeda. Aku dilantai 3 dan kamu di lantai 2. Dari parkiran sesegera mungkin aku lari menuju kelas supaya aku tidak berdekatan denganmu. Tapi kamu tetap mempercepat langkahmu dan mendahuluiku. Ketika sampai di lantai 2, didepan kelasmu yang mana dosen sudah masuk dan pelajaran telah dimulai, kamu tidak segera masuk tetapi berdiri didepan mading yang jelas-jelas itu mading lawas. Dan setelah aku melewati lantai 2 dan naik ke lt 3, aku melihatmu masuk kelas setelah aku lewat. Tapi aku tidak bisa menyimpulkan itu semua dan mungkin ini hanya keGRan ku saja, karena apa? Karena kamu hanya diam. Akupun juga diam. Dan, kamu tau kenapa setiap kamu hadir didekatku, sesegera mungkin aku memalingkan muka atau menghindarimu? Aku benar-benar nerveous dan aku susah untuk mengendalikan perasaanku. Aku takut jika aku terlihat salting didepanmu. Selain itu, jika aku harus melihatmu setiap hari, bagaimana bisa aku melupakanmu sedangkan perkuliahan ini hampir selesai. Aku sangat ingin sekali cepat lulus, tapi aku juga khawatir jika hal itu merupakan perpisahan kita untuk selamanya."

"Kemarin, 5/6/17 ketika aku harus konsultasi ppt untuk semhasku besok, aku segera menuju ruangan dosen pembimbingku. Dan didepan ruangan tersebut ada kamu. Jelas, jelas kondisi ini benar-benar membuatku bimbang. Aku ingin menghindarimu, tetapi aku harus standby ditempat itu. Dan akhirnya akupun memilih untuk membelakangimu, meskipun posisiku benar-benar aneh saat itu. Dan itu awal, awal kamu mau memulai pembicaraan denganku. Akupun menjawab sewajarnya dan sangat berusaha untuk terlihat tenang dan biasa. Aku juga mendapat kabar kalau kamu besok juga semhas. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya jauh hari, tapi aku berpura-pura untuk tidak tau dan tidak peduli dengan semua itu."

"Andai kamu tau, apa hal yang membuatku menjadi lebih baik diantara penyesalanku karena gagal melakukan semhas dengan baik? Jawabannya adalah kamu. Ya, kamu! Betapa terkejutnya aku ketika kamu tersenyum, dan melihatku. Aku sungguh tidak percaya kamu akan melakukan hal itu. Seseorang yang dari dulu aku kenal pendiam dan cuek, kali ini berani untuk memulai interaksi denganku. Kamu melihatku, tersenyum dan mengucapkan selamat kepadaku. Lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku. Ya Allah, aku tidak mengira, dan aku tidak percaya kamu akan melakukan hal seperti itu. Lagipula kamu juga tidak mengenalku. Kamu tau, betapa bahagianya aku saat itu? Mungkin bagimu, bagi orang lain, ini adalah hal yang biasa. Namun aku sangat-sangat memperhatikan dan menghargai sesedikit apapun interaksi yang kita lakukan. Aku sangat berterimakasih kepadamu. Karena hal itu, fikiran burukku tentang seminarku yang gagal telah teredam dengan kejadian baik. Akupun juga mengucap selamat kepadamu, karena kamu tadi juga sudah melaksanakan semhas."


"Terimakasih! Terimakasih untuk satu hal kecil yang sangat bermakna di akhir perkuliahan ini. Mungkin bagimu ini hal yang biasa, namun bagiku ini sangat luar biasa, maafkan. Mungkin beberapa bulan lagi kita akan terpisah bahkan mungkin tidak akan bertemu kembali. Sungguh aku sedih,  hanya kepadamu aku bisa merasakan perasaan seperti ini dan selama ini. Padahal kamu tau, aku bukan tipe orang yang gampang tertarik dengan lelaki, dan tidak bisa menyukai dalam jangka waktu yang lama. Kamu beda, kamu sama sekali bukan tipe lelaki yang aku idamkan, aku juga tidak mengerti apa kelebihanmu yang patut aku kagumi. Tanpa alasan yang jelas, aku sangat menyukaimu. Hanya padamu aku merasakan perasaan sedalam dan selama ini." 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar