23 Years Old. Ini adalah tentang kisahku, kehidupanku setelah kuliah. Masa yang mungkin aku bisa mengatakannya masa terjatuhku, masa tersulit dan dari situ aku belajar banyak hal untuk mendewasakanku.
Bagi sebagian orang mungkin memandang bahwa wisuda adalah akhir, dan hal itu segera menujukan kita pada sebuah kehidupan baru yang lebih baik. Hal itu juga termasuk pandanganku dalam hidup. Aku begitu percaya diri dan bangga dengan almamater yang aku miliki, akupun juga beranggapan bahwa gampang lah semua pasti akan segera terselamatkan. Target awal, umur 24 aku akan bisa membeli mobil pribadi setidaknya untuk DP.
Dari awal aku memang terlahir dari keluarga yang aman, dalam artian Insyaallah keluargaku selalu bisa memenuhi segala kebutuhanku. Segala jatuh bangun keluarga yang pernah teman-temanku ceritakan, sampai mereka pernah merasakan apa itu kehidupan paling bawah dan sekarang Alhamdulillah mereka sudah aman dan jaya, aku tidak seperti itu. Aku selalu aman, aku selalu memiliki apa yang aku mau. Kehidupan dalam pandanganku sangatlah mudah, bagiku semua bisa didapatkan asalkan ada doa dan usaha.
But, aku sadar. Aku mulai sadar bahwa tidak semua seperti apa yang aku bayangkan. Aku tidak tau, sampai aku benar-benar merasa apa salahku? Sampai aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Rencana yang dulunya aku kira akan berjalan lancar, ternyata tahun itu (2017) tidak seperti itu. Yang akhirnya memaksaku untuk berjuang dan berusaha dengan mengandalkan diriku sendiri. No!
Disuatu sisi hatiku sangatlah gundah ketika lulus merupakan jalan yang menjauhkanku dengan seseorang yang sangat aku cintai dan inginkan. Disisi lain pikiranku sangatlah kacau ketika aku tidak kunjung mendapatkan pekerjaan terhitung setelah 2 bulan lulus kuliah. Rasanya aneh, aku harus menjalani kehidupan, aktivitas yang membosankan, yang tidak pernah terbayang sebelumnya dan tidak sesuai dengan ekspektasiku sebelumnya.
Aku, bersama teman-teman kuliahku bersama memburu jobfair. Berangkat subuh, pulang tengah malam (karena perjalanan ke kota lain PP +- 10 jam). Belum lagi lelah, dan biaya yang harus aku keluarkan untuk transport dan makan. Syukur Alhamdulillah, orangtuaku masih mensupportku untuk masalah materi. Dan saat itu aku masih terobsesi untuk kerja harus di kota besar, tujuan utama Jakarta. Atau ngga Surabaya. Dan tidak lama kemudian aku lolos administrasi untuk mengikuti tes di Jakarta.
Kebetulan orangtua mendukungku. Mereka mempersiapkan segala kebutuhanku untuk hidup disana dan aku meminta untuk coba sebulan tinggal disana. Kebetulan kakakku juga tinggal di sana jadi aku tidak kesulitan. Untuk tiket eksekutif aku sudah dipersiapkan oleh orangtuaku, sejumlah tabungan di atm juga sudah siap, kos disana juga sudah dipersiapkan oleh kakakku. Clear, aku terima jadi dan akhirnya berangkat.
Awal menginjakkan kaki disana, pikiranku terbuka lebar. Optimisku semakin bertambah 100%. Bayangkan saja, jangankan lowongan kerja, disana apapun bisa jadi duit. Pikiranku mulai goyah, aku tidak konsentrasi dengan tujuan awalku, dan ketika hari H datang, seketika pula disitu juga hasil pengumuman ditampilkan, aku gagal. Aku merasa bersalah kepada kedua orangtuaku, yang telah mensupportku dengan serius tetapi aku tidak memberikan hasil yang serius. Oh Ya Allah. Tapi disitu aku tidak hanya diam, disisa sewa kos yang ada aku memanfaatkan waktu untuk mencari peluang lain yang mungkin bisa menghasilkan. Oh, do you know guys? Ternyata dari semua itu aku baru menyadari beberapa hal yang mungkin sama sekali tidak terfikirkan olehku. Tidak hanya lowongan kerja yang banyak, pesaingpun juga lebih banyak. Kalau kamu tidak pintar, kerjamu kasar! Disini kota tidak ada matinya, dari subuh sampai subuh penuh dengan aktifitas. Tidak hanya sekali, berkali-kali aku mencoba kesempatan yang ada, sampai aku merasakan bagaimana susahnya cari kerja, cari uang. Sesulit ini, secapek ini, sengabisin duit kayak gini, apalagi sendirian muter-muter dikota orang. Bahkan aku juga merasakan bagaimana untuk bisa mengikuti tes kerja, kita tidak dihargai sebagai manusia. MMMmmmmmhhhh!!! Rasanya harus istighfar banyak-banyak. Apalagi disini aku fresh graduate, belum memiliki pengalaman, kepintaran pas-pasan. Bahasa Inggris ngga beraturan, Persiapan juga tidak pernah matang. Dan disana aku hanya banyak menghabiskan uang, sampai suatu hari aku mulai jenuh dan kebetulan sisa kos juga hampir habis. Aku memutuskan untuk pulang.
Kehidupan di Jakarta memberiku banyak pelajaran hidup yang harus aku mengerti, pelajari dan perbaiki. Aku masih pantang menyerah untuk mencari kerja di kota besar di provinsiku. Sampai pada akhirnya aku mendapat panggilan dari perusahaan besar. Disitu aku sudah sangat optimis, apalagi interview yang aku lakukan sudah sampai pada tahapan dimana pesaingku tidak. Tapi guys, salah! Bahasa Inggris TIDAK BISA aku hindari. Aku pikir, ada lah perusahaan yang ngga perlu Bahasa Inggris, dimana aku sangat lemah terhadap itu. Aku melihat temanku juga bisa mendapatkan pekerjaan tanpa perlu belajar Bahasa Inggris.
Dan ternyata semuanya salah. Bahasa Inggris sangatlah penting. Kalau kalian tidak bisa bahasa asing lain, setidaknya kalian HARUS BISA Bahasa Inggris, bahasa internasional yang sangat penting dan dibutuhkan. Mendengar semua ceritaku, orangtuaku marah. Mereka marah bukan karena aku selalu gagal, tapi mereka marah karena aku tidak mengikuti perkataannya, dimana ketika aku menyusun skripsi, aku memiliki lebih banyak waktu luang. Orangtuaku sudah mengirim sejumlah uang dan selalu mengingatkanku untuk mengikuti les bahasa inggris di Malang. Tapi aku tidak segera mandaftar dan aku hanya meremehkan saran orangtuaku.
Tidak lama kemudian, orangtuaku mengirimku ke Pare untuk fokus belajar Bahasa Inggris sampai matang. Nah disini kehidupanku dimulai. Di Pare aku menjalani hidup lebih baik. Aku lebih bisa menata hidup dan pikiranku. Semangatku sangatlah tinggi, karena disini aku memiliki target kembali. Jika kita menjalani sesuatu dan memiliki target, maka langkah kita selalu terarah. Aku sangat bisa mengatur keuangan, dan aku sadar bahwa ini bukan lagi waktu untuk terus menerus hanya menghabiskan uang orang tua. Bahkan aku berfikir bagaimana caranya dengan pengeluaran kecil, aku bisa menghasilkan ilmu dan membentuk skill dengan matang. Mungkin benar, aku orangnya individualis, dari jaman kulian, aku ngga bisa tinggal sekamar dengan orang-orang yang baru aku kenal. Aku lebih memilih untuk tinggal sendirian dalam 1 kamar. Dan di Pare sangatlah susah untuk mendapatkan kamar seperti itu. Sampai akhirnya aku mendapatkan 1 kamar dimana kondisinya dapat dikatakan tidak layak.
Pertama orangtuaku mengantarku untuk pindahan ke kosan itu, mereka sudah memperingatiku beberapa kali, ngga usah nunggu sebulan habis. Pindah kalo kamu ada pandangan kos yang lebih baik! Aku tau, aku sangat paham kekhawatiran mereka melihatku dalam keadaan dan kondisi seperti itu, tapi disini aku tidak lagi memikirkan tempat tinggal yang baik untukku. Tujuan utamaku disini adalah belajar. Untuk biaya pendidikan yang orangtua beri padaku saja aku sudah lebih dari terimakasih, apalagi hanya maslaah kos yang hanya aku buat tidur tiap malam saja. Lingkungan kosku juga tidak sebaik lingkunganku sebelumnya.
Memang awal tinggal disana aku merasa sangat takut. Aku tidak kenal siapa-siapa, dan lingkungan dasana seperti kurang aman. Sangat buruk, kamar yang selalu lembab, membuat semua buku-bukuku jamuran, bagaimana denganku jika harus tinggal disana untuk beberapa bulan. Tapi dari situ aku mulai sadar, bahwa kehidupan tidak selamanya berada diatas. Mungkin dengan support dari orangtuaku aku masih bisa hidup layak seperti saat ini, tetapi mungkin jika aku hidup dengan mengandalkan diriku sendiri, mungkin inilah aku. Dari hal itu aku sangat banyak bersyukur dengan kehidupan yang telah aku miliki sekarang ini. Jangankan untuk membeli kebutuhan tersier atau sekunder, untuk bisa mencukupi kebutuhan pokok saja aku sudah Alhamdulillah.
Sampai pada akhirnya (2018) aku mendapat informasi peluang yang sangat aku idamkan semenjak kuliah. Yang aku bayangkan akan menjadi profesiku setelah aku lulus. Sesuatu yang berhubungan dengan salah satu mata kuliah yang pernah aku usahakan meskipun aku menjalani perkuliahan dengan anak-anak jurusan lain. Mencoba mengerjakan segala tugas praktikumnya sendirian tanpa ada teman yang kenal dekat. Akhirnya kedua orangtuaku memintaku untuk pulang dan fokus pada peluang itu. Aku meninggalkan pendidikan dan kosku di Pare. Selalu belajar dan berdoa setiap hari untuk bisa memanfaatkan kesempatan itu. Aku juga sudah memantapkan niatku, mematangkan materiku, wawasanku, segalanya telah aku usahakan. Aku juga sudah mempersiapkan tiket untuk ke Jakarta pada minggu itu. Tapi ternyata kehendak Allah berkata lain. Aku memang lolos tahap awal, tapi ternyata untuk tes selanjutnya diadakan di Balai pusat Sulawesi. Ohhh, rasanya benar-benar patah. Aku telah merelakan segala materi dan sisa pendidikanku untuk hal itu, dan justru tes selanjutnya tidak diadakan di Jakarta, tapi di Sulawesi.
Ayah sudah berani untuk support aku berangkat, tapi mamah tidak berkata hal yang sama. Stress? Jelas! Patah, sakit. Sampai tidak hanya pikiranku yang kacau, tubuhku down. Aku jatuh sakit, aku benar-benar tidak semangat untuk apapun. Disuatu sisi aku juga sangat malu, karena seringkali aku diserang oleh pertanyaan dan omongan yang tidak mengenakkan. Aku paling tidak suka dibandingkan apalagi direndah-rendahkan. Aku memang cuek, tapi kalau sampai aku merasakan sesak didada berarti perkataan itu benar-benar sangat menyinggungku.
Orangtua selalu mengingatkanku, menguatkanku. Selalu menasehatiku untuk jagan sampai putus dalam berdoa dan berusaha. Tidak usah menghiraukan perkataan orang lain. Fokus pada dirimu sendiri. Cobalah bangun, menata hati dan pikiran pelan-pelan. Sampai beberapa minggu kemudian semangatku muncul kembali. Mamah, sungguh aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpanya. Mamah selalu menguatkanku, mamah selalu memberiku ketenangan diantara desakan hati dan fikiran yang aku rasakan saat itu. Akhirnya aku berusaha kembali untuk mencari pekerjaan.
Pada bulan itu, memang aku sangat banyak sekali panggilan. Dan salah satunya adalah perusahaan yang didukung oleh kedua orangtuaku. Kebetulan aku juga sudah bisa mencapai pada tahap akhir, interview kepala pimpinan cabang. Tapi saat itu aku berasa tidak seberasil interview HRD, dan ada beberapa jawaban yang perlu aku koreksi. Oh God. But aku berharap semoga keberuntungan datang kepadaku, aku segera mendapatkan panggilan kembali untuk bergabung pada perusahaan itu.
Tapi, apa yang aku dapat? Disisi lain, ketika aku kepo mengenai orang yang selama ini aku inginkan, dia mulai dekat dengan teman kerjanya. Dan perempuan itu juga sangat baper terhadapnya. Ya Allah, kalian bisa bayangkan bagaimana rasanya jadi aku. Disaat aku mulai bangkit kembali, hal itu justru membuat moodku semakin jatuh. Apalagi aku tidak kunjung mendapatkan panggilan final dari perusahaan terakhir yang telah aku usahakan. Aku, perempuan yang selama ini berusaha untuk menutupi segala perasaanku selama 4 tahun, dan mungkin dia mulai peka 1 tahun terakhir. Itupun diakhir perkuliahan, dan akhirnya kita dipisahkan oleh kelulusan. Menjalani hidup masing-masing. Usahaku, doaku selama 4 tahun yang hanya berujung seperti itu, sedangkan dia? Dia hanya dekat denganmu selama beberapa bulan dan telan mendapatkan perhatianmu lebih jauh seperti itu? Setiap aku berdiri dihadapan kaca aku selalu berkata, "Aku lebih cantik. Aku lebih baik. Aku lebih jauh banyak memberikan cinta untukmu, tapi kenapa cintamu bukan untukku?". Gila. Kalo dipikir dengan logika aku sadar aku bodoh, apalagi umurku sudah 23, bukan usia remaja alay yang galau sana sini. Tapi sungguh, jujur sampai saat ini pun tidak ada laki-laki yang bisa mengisi hatiku. Hatiku seakan tertutup, dan seketika patah. Hancur. Aku tidak lagi percaya dengan adanya cinta! Yang dulunya aku berfikir akan ada buah hasil dari kesabaranku selama ini. Akan ada waktu dimana aku akan dipertemukan dengannya kembali. Akan ada cinta yang akan tumbuh dan menyatukan kita. Tetapi semua seakan bullshit! Ini akan menjadi pengingat bagiku, bahwa tidak ada laki-laki yang benar-benar loyal. Sebaik dan secuek apapun sifatnya pada perempuan lain, bukan menjadi titik patok. Dan keadaan saat ini, mereka berada di satu kota dan satu pekerjaan yang memungkinkan untuk bertemu setip waktu. Sedangkan aku, komunikasiku dengannya sangat tidak lancar. Aku tidak diam, aku sudah berusaha hidup dimana-mana membuat cerita baru supaya aku lupa dengannya, tapi sungguh aku tidak bisa. Aku juga belum mendapatkan pekerjaan, dimana fikiranku tidak terarah. Aku sangat kacau, aku sangat ingin membeli samsak tinju untuk melampiaskan segala kekesalan duniaku.
Tapi disatu sisi aku selalu ingat bahwa aku memiliki Allah yang selalu membantuku, meringankan segala bebanku dan mengatr kehidupanku dengan sangat-sangat baik. Hanya istighfar dan banyak-banyak berdoa yang bisa aku lakukan saat itu. Aku lebih sering bersyukur dengan segala yang telah aku miliki. Dan aku teringat 1 hal yang aku lupa diatas obsesi dan doa yang selalu aku usahakan. Yaitu takdir. Setiap orang memiliki takdirnya masing-masing, aku tidak bisa menyamakan kehidupanku dengan kehidupan orang lain. Sejauh, sekeras, seniat apapun usaha dan doa kita, jika Allah tidak menetapkannya untuk kita, kita tidak akan menggapainya. Allah lebih mengetahui apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Bukan tidak akan mendapatkan, mungkin kita akan diberi sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang kita usahakan sebelumnya. Aku tidak lagi menuntut untuk mengusahakan apa yang aku inginkan. Aku letakkan segalanya, aku pasrahkan segalanya kepada Allah. Tapi aku tetap berusaha dan berdoa semaksimal mungkin, melakukan apapun yang terbaik yang akupunya. Tidak lupa aku selalu meminta petunjuk dan jalan supaya mendapat tuntunan untuk bisa menjalani hidup dengan lebih baik dan bermanfaat. Selalu dekat dengan Allah, menjalani semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
Aku mendapatkan ketenangan yang sangat menyejukkan hati dan pikiranku. Disisi lain, pada akhir bulan aku mendapatkan panggilan kerja dari sesuatu yang hanya aku coba-coba. Aku mengikuti seleksi tulis dan wawancara semaksimal mungkin yang aku bisa dan akhirnya aku mendapatkan informasi untuk mulai bekerja awal bulan. Ya Allah, semua telah Engkau atur. Engkau akan memberikan hasil pada hambaMu yang kuat, pantang menyerah dan selalu berusaha. Engkau akan mengabulkan dan memberi jalan pada semua hambaMu yang berdoa. Engkau lebih mengetahui, dan aku sangat percaya pada takdir yang telah Engkau tentukan, aku percaya hal itu sebaik-baiknya kehidupan. Aku berterimakasih atas segala kesusuahan yang Engkau berikan kepadaku selama beberapa bulan ini, supaya aku lebih bisa menghargai, supaya mengetahui sulitnya menjalani kehidupan yang sesungguhnya, belajar banyak untuk bersabar dan banyak-banyak bersyukur. Dan 1 yang paling penting adalah untuk tidak berburuk sangka kepadaMu karena tidak segera mengabulkan doaku, tetapi Engkau telah menata waktu paling tepat, bukan ketika aku mau, teapi ketika aku telah pantas dan siap untuk mendapatkan segalanya.
Saat ini aku bisa merasakan bagaimana rasanya mendapatkan uang sebesar yang biasa orangtua beri kepadaku. Ternyata untuk mendapatkan uang sebesar itu sangatlah lelah, dan aku merasakannya. Aku lebih bisa menghargai, dan banyak bersyukur atas apa yang Allah beri kepadaku. Yang perlu diingat, tidak ada usaha yang sia-sia. Allah pasti memberi rejeki yang cukup untuk kita hidup, bukan untuk gaya hidup. Tahun ini adalah awal aku memulai kehidupan yang sesungguhnya, sebagai diriku sendiri, bukan sebagai anak dari orangtuaku. Dan aku percaya masalah jodoh, Allah telah mempersiapkannya. Tugas kita adalah berusaha dan berdoa semaksimal yang kita mampu. Kalau Allah dengan mudah memberi rejeki dari arah yang benar-benar tidak pernah aku sangka, bukan tidak mungkin kan Allah juga memberiku jodoh dari arah yang tidak aku sangka? :)
Semoga kehidupan kita selalu dalam lindungan Allah, aamiin.
ya Allah kenapa sama persis nis:" yg penting doa dan usaha ya ga pernah putus nis
BalasHapusBetul la, banyak² bersabar, bersyukur, berdoa dan berusaha. Insyaallah semuanya diberi kelancaran :')
Hapus