Semester
5. Selamat datang semester 5 yang artinya aku harus kembali ke kota perantauan
dan mengakhiri liburan yang cukup panjang. Mendekati berakhirnya liburan,
hari-hariku terasa tidak bersemangat. Rasanya seperti aku harus menjalani hidup
yang tidak aku inginkan sama sekali. Apalagi jika aku teringat bahwa aku harus
tinggal disana seorang diri.
Sebelumnya, aku tinggal serumah
dengan kakak kandungku di kota perantauan kami. Tetapi sekarang dia sudah lulus
dan melanjutkan karir serta pendidikannya di Jakarta. Rasanya benar-benar
senang melihat my bro graduated dan langsung mendapat tempat yang cukup mapan
untuk anak seumurannya. Namun disisi lain aku juga sedih karena harus tinggal
dirumah sendirian.
Hari
pertama kembali ke kota rantau, masih homesick banget rasanya. Pengen cepet-cepet
pulang, apalagi jaraknya tidak begitu jauh yang bisa ditempuh kurang lebih 3
jam. Sampai sekarang rasanya masih teringat my bro ketika berada di rumah ini
sendirian. Biasanya jam 10 malam bukan merupakan waktu yang malam untuk kami.
Bahkan jika kita sedang asyik menghadap laptop kita masing-masing, bisa betah
seharian tidak tidur. Biasanya aku tidur pukul 2 pagi. Aku merasa aman saat my
bro tinggal disini. Tidak merasa sepi dan tidak menanggung beban sendiri jika
ada lampu atau aksesoris rumah lainnya yang rusak. Saat aku pulang malampun,
aku selalu ingat bahwa my bro tidak pernah menutup pintu sebelum aku sampai
rumah. Berbeda dengan keadaan sekarang, ketika aku dirumah sendiri. Jam 8 pagar
harus sudah tergembok dan pintu terkunci rapat.
Hal ini memang sudah lama
terbayang. Aku bakal berada dirumah seorang diri ketika berada di kota ini.
Terkadang saat aku merebahkan badan di kamar dan melihat keluar, aku teringat
my bro hampir setiap hari bermain laptop didepan TV. Meskipun anaknya pendiam
dan cuek, dia sangat sabar dan baik hati. Dia tidak pernah mengeluh atas
segala/apapun yang dihadapinya meskipun itu sangat susah dan sulit. Dia tidak
pernah meminta uang lebih kepada orangtua kami, padahal dia sedang menyusun
skripsi saat itu. Berbeda dengan aku yang sangat cerewet dan mudah mengeluh.
Sampai pada suatu saat aku pernah
melihat my bro tidak makan seharian, sudah kuingatkan berkali-kali tetapi dia
tetap tidak makan. Dan pada sore hari aku lihat dia memasak nasi dan coba tebak
apa yang dia beli untuk lauk makan malamnya? Dia hanya membeli beberapa butir
gorengan. Benar-benar sama sekali tidak mau jujur dengan kondisinya. Mungkin
prediksiku, kirimannya habis untuk membuat skripsi yang sepeserpun dia tidak
pernah meminta lebih dari bulanan yang diberi oleh orangtua kita. Sontak aku
langsung menghubungi mamah dan mengatakan semuanya tentang my bro yang tidak
makan seharian. Langsung juga saat itu ayah mamahku menyuruhku untuk segera
mengambil uang di ATM untuk segala keperluan skripsi my bro.
Tapi sifat pendiam dan sabar yang
dimiliki my bro berhasil mengantarkannya ke posisi yang Allah beri kepadanya
seperti sekarang. Siapa yang menyangka? Bahkan mamahku yang dulu sempat bingung
mau jadi apa my bro ini kalau kesehariannya hanya nge game tanpa henti sekarang
bisa mendapatkan tempat dan posisi yang Alhamdulillah dapat mengangkat
derajatnya sekarang, bahkan sebelum dia diwisuda. Bahkan ketika dia dapat cuti
3 hari untuk wisuda, sudah terlihat jelas perbedaan mulai dari penampilan dan
isi dompet. Kiriman yang kita dapatkan setiap bulan, tidaklah apa dengan
pendapatan yang mampu ia raih sekarang apalagi hanya untuk mencukupi dirinya
sendiri. Dulunya aku sering sekali marah dan mengadu ke mamah kalau my bro
jarang cuci baju, dan sekarang dia terlihat rapi dan bersih.
Disini
sekarang aku tinggal seorang diri di satu petak perumahan kecil tanpa teman.
Memang keluargaku mengkhususkan rumah ini hanya ditinggali keluarga, karena
orangtua dan keluarga juga sering ke kota ini. Ketika aku masuk ke kamar my
bro, aku masih sering teringat ketika dia sedang tidur disana. Masih ada
beberapa barang-barangnya yang ditinggal di kamar itu, termasuk buku skripsi
buatannya, perjuangannya. Dia bilang buku itu sengaja ditinggal disini untuk
kenang-kenangan. Sangat teringat jelas dalam pikiranku, dia sangat menyukai
kota ini, kota kuliahnya, kota perantauannya selama kurang lebih 4 tahun.
Tampak sekali karena my bro sangat betah dan jarang sekali pulang ke kota asal
kami.
Satu hari sebelum hari H
wisudanya kemarin, kami sekeluarga berangkat menuju kota ini dan menginap di
rumah ini sekeluarga. Sesampainya dirumah ini, my bro selalu memakai dan
mencoba pakaian wisudanya. Ber…kali-kali dia bilang ke mamah bahwa dia tidak
percaya besok adalah hari wisudanya. Setelah acara wisuda selesai, dia sama
sekali tidak mengemas barangnya. Hari sudah larut malam, ketika kami sibuk
mengemas barang untuk kembali ke kota asal, dia masih terlihat menikmati tidur
di kamar kesayangannya. Dia bilang ke Ayah bahwa dia tidak mau kembali dan
masih betah berada disini. Biar bagaimanapun orangtua kami tetap mengarahkannya
dan memberitahu bahwa besok jadwal keberangkatan kembali ke Jakarta melalui
stasiun kota asal kami. Akhirnya dengan berat hati dia berkemas dan keluar
rumah paling akhir.
Memanglah
kehidupan ini harus tetap berjalan. Tampak sekali, aku melihat jelas kesedihan
mamahku ketika mengantarkan my bro kembali merantau ke kota yang cukup jauh dan
jelas jarang pulang kampung. Saat hari raya kemarin, ketika my bro mengabari
bahwa tidak dapat cuti untuk pulang dan berkumpul bersama kami, aku sangat
mengerti kesedihan seorang ibu dan aku lihat air mata menetas. Mamahku juga
selalu bilang kepadaku bahwa jika besok sudah lulus, jangan melanjutkan ke kota
yang terlalu jauh.
Sebenarnya
dari awal aku sangat ingin merantau ke Ibukota, karena menurutku jika aku hanya
berkelut disini, aku tidak akan meraih kesuksesan yang jauh lebih baik jika aku
merantau ke Ibukota. Tetapi aku tidak dapat menjawabnya sekarang. Semua
kehidupanku kedepannya sudah kuserahkan kepada Allah, aku hanya berusaha untuk
memperoleh dan mencari yang terbaik dengan ridho dari orangtua. Mungkin
pertimbangan itu akan terfikir setelah aku lulus dan ketika takdir berbicara.
Saat
ini yang dapat dan mampu aku lakukan adalah konsentrasi dengan kuliah. Belajar
sebaik mungkin, dan tidak menyia-nyiakan keringat orangtua. Meskipun aku sangat
sering bolak-balik ke kota asal, tetapi aku tidak pernah membolos tanpa alasan.
Karena aku tau perjuangan orangtua (terutama Ayah) untuk dapat membiayai dan
membahagiakanku supaya aku menjadi anak yang terbaik. Mungkin kata
“Terimakasih” ataupun uang/harta berlimpah tidak dapat mengganti perjuangan
kalian sebagai orangtua yang selalu berusaha membuat anak-anaknya menjadi lebih
baik, nyaman dan tercukupi. Namun hanya satu kata yang selalu aku ingat, yang
pernah keluar dari mulut Ayah, bahwa Ayah sebagai orangtua tidak butuh
uang/harta kami ketika kami telah sukses kelak. Cukup melihat anak-anaknya
berhasil dan tetap menjaga perilaku baik sudah merupakan balasan yang lebih
dari cukup baginya.
Aku
yakin, pasti semua orangtua sama dengan orangtuaku yang rela berkorban apapun
untuk memenuhi kebutuhan anaknya termasuk pendidikan, supaya anaknya menjadi
lebih baik darinya. Dan segala larangan, segala kata marahnya adalah didikan
untuk mencegah kita ke perbuatan buruk dan menjadikan kita lebih baik, untuk
menyelamatkan dan melindungi anak-anaknya. Oleh sebab itu, mari kita berusaha
menjadi anak yang lebih baik dan dapat membanggakan orangtua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar