Jumat, 11 September 2015

        Semester 5. Selamat datang semester 5 yang artinya aku harus kembali ke kota perantauan dan mengakhiri liburan yang cukup panjang. Mendekati berakhirnya liburan, hari-hariku terasa tidak bersemangat. Rasanya seperti aku harus menjalani hidup yang tidak aku inginkan sama sekali. Apalagi jika aku teringat bahwa aku harus tinggal disana seorang diri.
  Sebelumnya, aku tinggal serumah dengan kakak kandungku di kota perantauan kami. Tetapi sekarang dia sudah lulus dan melanjutkan karir serta pendidikannya di Jakarta. Rasanya benar-benar senang melihat my bro graduated dan langsung mendapat tempat yang cukup mapan untuk anak seumurannya. Namun disisi lain aku juga sedih karena harus tinggal dirumah sendirian.
           Hari pertama kembali ke kota rantau, masih homesick banget rasanya. Pengen cepet-cepet pulang, apalagi jaraknya tidak begitu jauh yang bisa ditempuh kurang lebih 3 jam. Sampai sekarang rasanya masih teringat my bro ketika berada di rumah ini sendirian. Biasanya jam 10 malam bukan merupakan waktu yang malam untuk kami. Bahkan jika kita sedang asyik menghadap laptop kita masing-masing, bisa betah seharian tidak tidur. Biasanya aku tidur pukul 2 pagi. Aku merasa aman saat my bro tinggal disini. Tidak merasa sepi dan tidak menanggung beban sendiri jika ada lampu atau aksesoris rumah lainnya yang rusak. Saat aku pulang malampun, aku selalu ingat bahwa my bro tidak pernah menutup pintu sebelum aku sampai rumah. Berbeda dengan keadaan sekarang, ketika aku dirumah sendiri. Jam 8 pagar harus sudah tergembok dan pintu terkunci rapat.  
  Hal ini memang sudah lama terbayang. Aku bakal berada dirumah seorang diri ketika berada di kota ini. Terkadang saat aku merebahkan badan di kamar dan melihat keluar, aku teringat my bro hampir setiap hari bermain laptop didepan TV. Meskipun anaknya pendiam dan cuek, dia sangat sabar dan baik hati. Dia tidak pernah mengeluh atas segala/apapun yang dihadapinya meskipun itu sangat susah dan sulit. Dia tidak pernah meminta uang lebih kepada orangtua kami, padahal dia sedang menyusun skripsi saat itu. Berbeda dengan aku yang sangat cerewet dan mudah mengeluh.
  Sampai pada suatu saat aku pernah melihat my bro tidak makan seharian, sudah kuingatkan berkali-kali tetapi dia tetap tidak makan. Dan pada sore hari aku lihat dia memasak nasi dan coba tebak apa yang dia beli untuk lauk makan malamnya? Dia hanya membeli beberapa butir gorengan. Benar-benar sama sekali tidak mau jujur dengan kondisinya. Mungkin prediksiku, kirimannya habis untuk membuat skripsi yang sepeserpun dia tidak pernah meminta lebih dari bulanan yang diberi oleh orangtua kita. Sontak aku langsung menghubungi mamah dan mengatakan semuanya tentang my bro yang tidak makan seharian. Langsung juga saat itu ayah mamahku menyuruhku untuk segera mengambil uang di ATM untuk segala keperluan skripsi my bro.
   Tapi sifat pendiam dan sabar yang dimiliki my bro berhasil mengantarkannya ke posisi yang Allah beri kepadanya seperti sekarang. Siapa yang menyangka? Bahkan mamahku yang dulu sempat bingung mau jadi apa my bro ini kalau kesehariannya hanya nge game tanpa henti sekarang bisa mendapatkan tempat dan posisi yang Alhamdulillah dapat mengangkat derajatnya sekarang, bahkan sebelum dia diwisuda. Bahkan ketika dia dapat cuti 3 hari untuk wisuda, sudah terlihat jelas perbedaan mulai dari penampilan dan isi dompet. Kiriman yang kita dapatkan setiap bulan, tidaklah apa dengan pendapatan yang mampu ia raih sekarang apalagi hanya untuk mencukupi dirinya sendiri. Dulunya aku sering sekali marah dan mengadu ke mamah kalau my bro jarang cuci baju, dan sekarang dia terlihat rapi dan bersih.
           Disini sekarang aku tinggal seorang diri di satu petak perumahan kecil tanpa teman. Memang keluargaku mengkhususkan rumah ini hanya ditinggali keluarga, karena orangtua dan keluarga juga sering ke kota ini. Ketika aku masuk ke kamar my bro, aku masih sering teringat ketika dia sedang tidur disana. Masih ada beberapa barang-barangnya yang ditinggal di kamar itu, termasuk buku skripsi buatannya, perjuangannya. Dia bilang buku itu sengaja ditinggal disini untuk kenang-kenangan. Sangat teringat jelas dalam pikiranku, dia sangat menyukai kota ini, kota kuliahnya, kota perantauannya selama kurang lebih 4 tahun. Tampak sekali karena my bro sangat betah dan jarang sekali pulang ke kota asal kami. 
    Satu hari sebelum hari H wisudanya kemarin, kami sekeluarga berangkat menuju kota ini dan menginap di rumah ini sekeluarga. Sesampainya dirumah ini, my bro selalu memakai dan mencoba pakaian wisudanya. Ber…kali-kali dia bilang ke mamah bahwa dia tidak percaya besok adalah hari wisudanya. Setelah acara wisuda selesai, dia sama sekali tidak mengemas barangnya. Hari sudah larut malam, ketika kami sibuk mengemas barang untuk kembali ke kota asal, dia masih terlihat menikmati tidur di kamar kesayangannya. Dia bilang ke Ayah bahwa dia tidak mau kembali dan masih betah berada disini. Biar bagaimanapun orangtua kami tetap mengarahkannya dan memberitahu bahwa besok jadwal keberangkatan kembali ke Jakarta melalui stasiun kota asal kami. Akhirnya dengan berat hati dia berkemas dan keluar rumah paling akhir.
        Memanglah kehidupan ini harus tetap berjalan. Tampak sekali, aku melihat jelas kesedihan mamahku ketika mengantarkan my bro kembali merantau ke kota yang cukup jauh dan jelas jarang pulang kampung. Saat hari raya kemarin, ketika my bro mengabari bahwa tidak dapat cuti untuk pulang dan berkumpul bersama kami, aku sangat mengerti kesedihan seorang ibu dan aku lihat air mata menetas. Mamahku juga selalu bilang kepadaku bahwa jika besok sudah lulus, jangan melanjutkan ke kota yang terlalu jauh.
            Sebenarnya dari awal aku sangat ingin merantau ke Ibukota, karena menurutku jika aku hanya berkelut disini, aku tidak akan meraih kesuksesan yang jauh lebih baik jika aku merantau ke Ibukota. Tetapi aku tidak dapat menjawabnya sekarang. Semua kehidupanku kedepannya sudah kuserahkan kepada Allah, aku hanya berusaha untuk memperoleh dan mencari yang terbaik dengan ridho dari orangtua. Mungkin pertimbangan itu akan terfikir setelah aku lulus dan ketika takdir berbicara.
             Saat ini yang dapat dan mampu aku lakukan adalah konsentrasi dengan kuliah. Belajar sebaik mungkin, dan tidak menyia-nyiakan keringat orangtua. Meskipun aku sangat sering bolak-balik ke kota asal, tetapi aku tidak pernah membolos tanpa alasan. Karena aku tau perjuangan orangtua (terutama Ayah) untuk dapat membiayai dan membahagiakanku supaya aku menjadi anak yang terbaik. Mungkin kata “Terimakasih” ataupun uang/harta berlimpah tidak dapat mengganti perjuangan kalian sebagai orangtua yang selalu berusaha membuat anak-anaknya menjadi lebih baik, nyaman dan tercukupi. Namun hanya satu kata yang selalu aku ingat, yang pernah keluar dari mulut Ayah, bahwa Ayah sebagai orangtua tidak butuh uang/harta kami ketika kami telah sukses kelak. Cukup melihat anak-anaknya berhasil dan tetap menjaga perilaku baik sudah merupakan balasan yang lebih dari cukup baginya.

            Aku yakin, pasti semua orangtua sama dengan orangtuaku yang rela berkorban apapun untuk memenuhi kebutuhan anaknya termasuk pendidikan, supaya anaknya menjadi lebih baik darinya. Dan segala larangan, segala kata marahnya adalah didikan untuk mencegah kita ke perbuatan buruk dan menjadikan kita lebih baik, untuk menyelamatkan dan melindungi anak-anaknya. Oleh sebab itu, mari kita berusaha menjadi anak yang lebih baik dan dapat membanggakan orangtua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar