Senin, 25 Mei 2015

My Story

Berawal dari tahun 2013, dimana tahun tersebut saya mulai masuk kedalam salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Indonesia. Saat itu saya benar-benar tidak menyangka akan masuk kedalam Perguruan Tinggi tersebut. Dari awal saya tidak pernah memilih ataupun sekedar membayangkan untuk masuk kesana, namun setelah saya cukup lelah dan mulai pasrah akan segala hal, saya menerima rekomendasi dari ibu saya yang dulunya juga menjalani kuliah di Perguruan Tinggi tersebut. Alhasil, saya dapat menembus pilihan pertama saya yang jujur saat itu saya tidak mengerti bagaimana arah pembelajarannya.
Tetapi semakin lama, saya mulai mengikuti arus dan merasa nyaman berada disini. Awalnya, pembelajaran ini memang bukan merupakan bidang yang saya sukai. Disini terdapat banyak pelajaran  menghafal, padahal saya lebih suka untuk berhitung. Saya merasa sedikit bingung dan meremehkan jurusan ini. Dari segi penampilan mahasiswanya saja sudah terlihat, jauh dibandingkan dengan mahasiswa fakultas unggul lainnya. Awalnya saya juga merasa, tidak ada yang menarik satupun disini. Namun lama-kelamaan semuanya berubah.
Saat ini benar-benar ada yang membuat saya untuk semangat kuliah. Entah, ini dapat dikatakan alay atau tidak tetapi itu yang saya rasakan saat ini. Seseorang yang saya ketahui namun tidak saya kenal secara akrab. Awal saya melihatnya di tahun 2013, saya benar-benar mengakui jika seseorang tersebut berbeda. Dia berbeda dengan semua mahasiswa angkatan saya. Wajahnya seperti tampang seorang dokter, dengan kacamata yang ia kenakan membuatnya semakin terlihat rapi.
Awal itu saya mengakui bahwa dia handsome, namun tidak ada sedikitpun perasaan suka ataupun naksir kepadanya karena jujur saja saya tidak gampang menyukai seseorang. Selain itu saya juga kurang menyukai lelaki berkulit putih. 2013, 2014 berjalan dan pada pertengahan 2014 kami sering mendapat jadwal yang sama. Namun saat itupun juga saya masih merasa biasa saja seperti teman lainnya. Pernah ada sedikit rasa mengagumi temannya, namun hanya sekedar mengagumi itupun hanya 20%. Saat saya memiliki waktu untuk melihat temannya, disitu malah saya melihatnya dan kebetulan beberapa kali kita saling melihat. Dari pandangan mata tersebut, saya mulai penasaran dan ingin mengetahui siapa dia sebenarnya.
Secara, jaman sekarang teknologi sudah berkembang semakin canggih. Iseng saja ketika saya terbangun dari tidur dan bermain handphone, saya menelusuri profilnya melalui media social. Awalnya terasa biasa, namun semakin lama saya semakin penasaran dengannya dan melacak segala sesuatu tentangnya melalui media social. Lama kelamaan saya merasa simpatik dengannya.
Entah, semua berawal dari mana saya sendiri tidak mengetahuinya. Ketika saya mengetahui ternyata dia juga berasal dari keluarga baik-baik, semakin lama saya rasa dapat dikatakan bahwa saya mengaguminya. Mungkin tidak satupun orang mengetahuinya, bahkan teman saya sendiri. Ataupun dia, saya rasa dia tidak mengetahui perasaan saya. Saya menyukainya apa adanya dia saat ini, entah bagaimanapun kondisinya.
Saya tetap bersikap acuh dihadapannya, tidak memperlihatkan sedikitpun bahwa saya menyukainya. Namun  dibelakang tanpa ia ketahui, saya benar-benar bingung mengapa pikiran ini selalu terbayang tentangnya. Saya heran mengapa perasaan ini semakin lama semakin bertambah. Cara mengagumi paling rahasia adalah dengan hanya mendoakannya. Entah kenapa hati ini selalu berinisiatif untuk mendoakan kebahagiaannya, ketenangan hatinya, kelancaran urusannya, kesehatannya, kesuksesannya dan semoga Tuhan selalu melindunginya.
Saya sadar, saya bukanlah siapa-siapa. Saya juga tidak mengetahui statusnya. Apakah dia sedang menjalin hubungan ataupun tidak, saya tidak peduli. Saya juga tidak meminta apa-apa darinya. Saya juga sadar diri, bagaimana diri saya jika dibanding dengannya. 
Rasa semakin perasaan ini membuat saya sangat malu bahkan tidak kuasa untuk sekedar melihatnya. Membuat saya semakin salah tingkah dan cenderung ingin menghindarinya. Namun ketika dia tidak muncul dihadapan saya, really I miss. Sungguh saya takut. Saya takut kenapa saya memiliki perasaan ini kepada seseorang yang sering saya lihat namun tidak saya kenal. Berkali-kali juga saya berdoa, jika memang saya tidak pantas, Tuhan tolong jauhkanlah dia dari pandangan hamba dan berikan hamba keikhlasan hati untuk melupakannya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Justru saya lebih sering bertemu dengannya di kondisi apapun. Saya benar-benar menahan diri dan berusaha untuk menyembunyikan perasaan ini dihadapannya. Jika dekat dengannya, jantung berdebar sangat kencang dan hal itu membuat saya semakin salah tingkah. Oleh karena itu, saya lebih memilih untuk cepat-cepat menghindarinya.
Kota asalnya bukan merupakan kota yang asing juga bagi saya. Bahkan setiap semester saya mengunjungi kota tersebut. Lingkungannya mungkin juga tidak jauh dari lingkungan saya ketika berada disana, bahkan saya sering melewati namun saya tidak sadar jika diasana tempat tinggalnya. 2 Bulan lagi merupakan hari kelahirannya. Bertepatan dengan perayaan Idul Fitri tahun ini, semoga dia selalu diberkahi oleh Tuhan. Ingin sekali saya mengucap dan memberikan sesuatu untunya jika saat itu datang, namun saya tidak memiliki keberanian dan tau diri, bahwa saya bukanlah siapa-siapa.
Tetapi mungkin saya yang berlebihan. Saya bingung, Ya Tuhan kenapa tidak Engkau hapuskan pikiran ini. Atau mungkin ini takdir yang harus saya lalui saat ini, semoga semua ini menjadi salah satu pengalaman indah yang pernah ada di hidup saya. Terimakasih.

25/05/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar